top of page

54 items found for ""

  • JANGAN PANGGIL AKU MONSINYUR, TAPI USKUP

    Oleh Febry Silaban Dalam beberapa kali pertemuan dengan Kardinal Suharyo, beliau selalu meminta untuk tidak memanggil dia dengan kata Monsinyur, melainkan Uskup. “Saya lebih suka dipanggil uskup daripada monsinyur. Panggilan monsinyur itu terlalu feodal,” katanya. Loh, kok bisa begitu? Bukankah monsinyur itu uskup? Gereja Katolik berkembang dalam iklim kerajaan atau kekaisaran. Dalam sistem kerajaan (gaya Eropa), sangat lazim dikenal penganugerahan gelar-gelar kehormatan resmi. Dari gelar-gelar itu tecermin tingkatan-tingkatan kehormatan yang sangat kental dengan feodalisme. Misalnya, Lord dan Sir (di Inggris). Orang Prancis biasa secara resmi menyapa imam dengan Mon Pere (bapaku) dan uskup dengan Mon Signeur (tuanku). Di banyak tempat di Indonesia, kita memang biasa menyapa uskup dengan sebutan monsinyur. Di sebagian tempat, misalnya, umat di Keuskupan Agung Semarang menyapa uskupnya dengan sebutan Rama Kanjeng, sementara umat di Keuskupan Agung Medan sering menyapa uskupnya dengan sebutan Ompung. Dari catatan dalam surat Rasul Paulus, uskup (episcopus) itu adalah penilik jemaat. Seorang penilik jemaat bukan hanya tukang tilik-tilik tetapi diwarnai dengan sekian turunan tugas sebagai pelayan. Dalam Gereja, ada beda antara jabatan dan gelar kehormatan. Uskup merupakan jabatan resmi. Menjadi seorang uskup adalah tingkat ketiga dalam hierarki tahbisan (hierarchia ordinis) dan paling penuh dari Sakramen Imamat. Tingkat pertama adalah penahbisan seorang diakon, yang kedua adalah penahbisan seorang imam, dan yang ketiga adalah penahbisan seorang uskup. Seorang uskup yang pindah ke tingkat kardinal tidak ditahbiskan, tetapi dipilih sendiri oleh paus, yang juga menunjuk uskup. Sedangkan, monsinyur ternyata merupakan gelar kehormatan yang diberikan oleh Roma. Gelar ini tidak menunjukkan suatu jenjang tahbisan. Maksudnya, tidak hanya uskup dan kardinal saja yang bisa disapa monsinyur, tapi ada juga romo atau imam Katolik yang dapat disapa monsinyur. Imam yang mendapat gelar “Monsinyur” berhak atas penghormatan khusus, juga berhak mengenakan pakaian ungu. Sedangkan cincin uskup, mitra, dan tongkat merupakan tanda-tanda jabatan sebagai uskup. Monsinyur (bahasa Italia: monsignor) sebenarnya adalah sapaan atau sebutan kehormatan untuk pejabat gereja kaum klerus yang tingkatnya di bawah uskup. Gelar ini diberikan kepada orang yang telah berjasa memberikan pelayanan yang berharga kepada Gereja dan mereka yang menjalankan beberapa fungsi khusus dalam tata kelola Gereja. Bahkan, sebenarnya yang patut disapa monsignor adalah Vikaris Jenderal atau Vikjen (wakil uskup ordinaris wilayah) keuskupan, selama beliau menjabat sebagai Vikjen (bdk. Motu Proprio Inter Multiplices Curas, Paus Pius X, 21 Februari 1905). Menurut peraturan yang dibuat Paus Pius X tersebut, gelar monsignor diberikan kepada kaum tertahbis yang bekerja dalam istana kepausan. Namun, gelar ini diperluas dari waktu ke waktu dan bisa diberikan kepada imam yang bekerja di luar istana kepausan, artinya para imam yang berkarya di luar Roma, melalui rekomendasi seorang uskup. Awalnya untuk para imam yang lebih tua dari usia 35 tahun dan telah menjadi imam selama lebih dari 10 tahun. Mungkin tradisi ini tidak banyak diketahui orang di Indonesia, tapi pernah ada, misalnya Mgr. Valentinus Kartosiswoyo (meninggal tahun 2014). Beliau dianugerahi gelar prelatus honorarius kepausan hingga berhak menyandang diri sebagai “Monsinyur” dari Takhta Suci tahun 1987 saat menjabat sebagai Sekretaris Eksekutif KWI. Pada Instruksi Sekretariat Negara Tahta Suci tahun 1969 dinyatakan bahwa gelar "Monsinyur" dapat digunakan bagi para uskup. Hal ini merupakan praktik yang umum dalam bahasa Italia, Prancis, Spanyol, dan juga Indonesia, tetapi tidak dalam bahasa Inggris. Di Inggris dan negara-negara persemakmuran, seperti Singapura, Malaysia, dan Australia, sapaan untuk uskup ialah His/Your Lordship , sedangkan untuk uskup agung disapa dengan His/Your Grace. Namun, baru-baru ini aturan tentang gelar ini dibatasi lagi oleh Paus Fransiskus, yang kembali ke praktik yang lebih tua. Paus Fransiskus menyatakan bahwa dalam keuskupan-keuskupan gelar Monsinyur hanya akan diberikan kepada para imam yang telah mencapai usia 65 tahun, demikian pengumuman Vatikan tanggal 7 Januari 2014. Vatikan tidak menjelaskan alasan perubahan itu, tetapi gerakan itu dipandang sesuai dengan peringatan Paus Fransiskus yang menentang karierisme dan ambisi pribadi dalam klerus. Paus Fransiskus memang sering mengkritik klerikalisme, dengan harapan mereka lebih menekankan karya pelayanan dan bukan kekuasaan seperti yang dipahami sebelum Konsili Vatikan II. Kata monsignor sendiri merupakan bentuk apokope (hilangnya satu bunyi atau lebih pada akhir sebuah kata) dari kata Italia monsignore, dari frasa Prancis mon seigneur, yang berarti "tuanku". Gelar ini biasa disingkat Mgr, Msgr, atau Mons. Kata seigneur berasal dari bahasa Latin senior, yang artinya “yang lebih tua”, “yang dituakan”, “senior”. Di Vatikan, seorang uskup atau uskup agung (yang dapat dikenali dari salib besar yang dipakai di dadanya) tidak disapa dengan Monsignor, melainkan Eccelenza (bahasa Italia, dibaca “eksellenza”), yang artinya excellency atau “Yang Mulia”. Sapaan untuk kardinal adalah Eminenza, yang artinya Eminence atau “Yang Utama”. Duta Besar Vatikan di Indonesia, Uskup Agung Piero Pioppo, menyapa para uskup dan uskup agung di Indonesia dengan sapaan Excellency. Kini saya ingatkan, jangan sampai keliru dalam penyebutan nama uskup. Misalnya, penyebutan “Yang Mulia Mgr. Kornelius Sipayung, OFM Cap.” itu kurang tepat. Penulisan atau penyebutan yang lebih tepat adalah (1) Uskup Agung Kornelius Sipayung, OFM Cap.; atau (2) Yang Mulia Kornelius Sipayung, OFM Cap.; atau (3) Yang Mulia Uskup Agung Kornelius Sipayung, OFM Cap. Sementara, yang patut disapa Monsignor adalah Vikaris Jenderal, misalnya Vikjen KAJ disapa Monsinyur Samuel Pangestu. Jadi, semua uskup (agung) pasti bergelar “monsinyur”. Namun, tidak semua “monsinyur” adalah uskup (agung). Dengan demikian, ada baiknya umat menyapa uskup, misalnya, “Yang Mulia, Bapa Uskup, terima kasih atas…” atau “Selamat pagi, Bapa Uskup”, dan bukan “Selamat pagi, Monsinyur”. Penjelasan yang dipaparkan di atas, saya temukan sebagai paling tidak dasar pendasaran lebih jauh terkait pernyataan Kardinal Surharyo tentang “jangan panggil saya Monsinyur, tetapi Uskup”. Tabik! Catatan kecil, Jakarta, 060624 ✍ Febry et Scientia

  • JANGAN TAKUT UCAPKAN ‘HAPPY EASTER'

    Hari ini segenap umat Kristiani merayakan Paskah. Bagi umat Katolik, hari Minggu Paskah adalah PUNCAK peringatan liturgi Gereja. Hari Raya Kebangkitan Tuhan ini adalah HARI RAYA DARI SEGALA HARI RAYA. Hari itu menjadi hari yang amat istimewa karena Yesus telah bangkit dari kematian. Yesus telah mengalahkan dosa dan maut dengan kebangkitan-Nya. Berbagi sukacita Paskah tentu bisa melalui hal yang sederhana, salah satunya saling memberi ucapan "Selamat Paskah" ke sesama yang merayakan. Zaman sekarang sudah maju, tidak perlu menggunakan kartu ucapan lagi, melainkan cukup dengan mengirimkan pesan teks via WA, FB, Twitter, IG, dan platform media sosial lainnya. Nah, yang ingin dibahas di sini adalah ucapan Paskah dalam bahasa Inggris. Bukan hal yang baru kalau zaman sekarang greeting atau pun bentuk ucapan hari-hari khusus disampaikan dalam bahasa Inggris. Apalagi tujuannya kalau bukan biar gaya atau keren-kerenan, bukan? 😀 Seperti biasa, menjelang hari Paskah ini, muncul broadcast (brodkes) atau pesan di WhatsApp atau FB dari golongan tertentu yang aktif pada tuduhan musiman mereka, yakni "Jangan mengucapkan HAPPY EASTER karena itu diambil dari nama dewi pagan, Ishtar". Tudingan musiman itu mereka terus gemakan setiap menjelang peringatan Jumat Agung hingga hari Paskah ini, dan sudah berlangsung beberapa tahun ini. Jika kita sebagai Kristiani/Katolik yang waras, jangan mudah termakan provokasi mereka. Mari kita cek dan ricek. Mari kita filter dulu. Pesan brodkes tersebut terjadi akibat si penulis gosip brodkes itu "kurang wawasan", "kurang baca ensiklopedia", dan "buta huruf dan gramatika bahasa Ibrani". Pesan brodkes memang biasanya dibuat untuk menebar gosip dan yang menerimanya juga asal kirim saja, lantas menyebar ke mana-mana. Seringkali pesan tsb malah menjadi polemik di antara orang-orang yang sama-sama kurang wawasannya. "EASTER" dikaitkan dengan "ISHTAR" (nama salah satu dewi pagan), karena kesamaan bunyi saja. Dalam bahasa Indonesia, itu dinamakan "HOMOFON", yg artinya kata yg sama dgn kata lain, tetapi berbeda ejaan dan maknanya. Misalnya: "masa" dan "massa", "sangsi" dan "sanksi". Kita juga sering melihat utak-atik tulisan "Inggris-Indonesia" untuk candaan: "Are you" diartikan ayu (cantik). "Pra one" diartikan perawan. "Two girl" diartikan tugel – Jawa (putus). Mungkin juga kita pernah membaca tulisan di belakang angkot atau truk, misalnya: "Pra One Are You," yang maksudnya adalah "Perawan Ayu" (dari kemiripan bunyi saja). Jadi, menyamakan EASTER dengan ISHTAR adalah suatu hoaks murahan dengan menggunakan "logika angkot/truk". 😀 Mereka yg memakai logika murahan tersebut menduga bahwa EASTER berasal dari nama dewi Isthar (dari Sumeria) atau dewi Eostre/Astarte (dari Teutonik), yang merujuk kepada nama dewi Asyerah. Memang sekilas bunyinya mirip, tapi besar kemungkinan kata “EASTER” berakar dari kata “Eostur”, yang berarti “musim kebangkitan” (season of rising) yang mengacu kepada musim semi. Maka, kata “Easter” digunakan di Inggris, “Eastur” di bahasa Jerman kuno, sebagai kata lain musim semi. Jika kita perhatikan bahasa Jerman kuno (proto-Germanic), kata Ostern berasal dari kata Ost (east atau terbitnya matahari), dan berasal dari bentuk kata Teutonik yaitu erster (artinya yang pertama/first) dan stehen (artinya berdiri/stand), yang kemudian menjadi erstehen (bentuk kuno dari kata kebangkitan/resurrection), yang sekarang menjadi auferstehen (kebangkitan dalam bahasa Jerman sekarang). Fakta ini tidak hanya menunjuk pada kebangkitan Yesus Kristus dari kematian, tapi juga kenaikanNya (to rise) ke Surga dan nanti saat kita terangkat (to rise) ke Surga bersama-sama dengan Yesus saat Dia datang kembali untuk menghakimi dunia. Sedangkan di negara-negara lain, digunakan istilah yang berbeda: Pascha (Latin dan Yunani), Pasqua (Italia), Pascua (Spanyol), Pasen (Belanda), Páscoa (Portugis), Pâques (Prancis), dan Paskah (Indonesia), yang semua berasal dari kata Ibrani פֶּסַח – Pesakh, yang artinya “Passover”. Jadi, kata Ester/Eostur dalam bahasa Inggris, yang berubah menjadi Easter, adalah setara dengan kata Oster dalam bahasa Jerman yang kemudian menjadi Ostern. Maka, jika ada kemiripan bunyi Easter dengan Isthar, itu hanya KEBETULAN dan tidak dapat dipaksakan bahwa keduanya berhubungan. Sebenarnya tidak ada hubungan antara "dewi Ishtar" dengan "EASTER" atau "hari raya Paskah". Kalau pun dicari-cari permasalahannya, sekali lagi, itu hanya terletak pada kemiripan bunyi saja (homofon). Bukan makna! Dengan demikian, bukan berarti karena sebutan Easter mirip dengan Isthar atau Eostre, maka ucapan “Happy EASTER” berkaitan dengan penyembahan berhala. Dalam perkembangan terjemahan Kitab Suci, memang akhirnya dijumpai kata "EASTER" dalam Kisah Para Rasul 12:4 dalam Alkitab terjemahan bahasa Inggris The King James Version (KJV). Jika kita membaca dari naskah Kitab Suci bahasa asli Perjanjian Baru Yunani, kita akan mengerti bahwa yang dimaksudkan "Easter" pada terjemahan ayat Kis 12:4 itu adalah hari "PASKAH" (Yunani πασχα - paskha, Ibrani פֶּסַח – Pesakh, Inggris "Passover"). Jangan lupa bahwa semua nama hari dalam bahasa Inggris juga dapat dihubungkan dengan asal-usul pagan. Misalnya, "Sunday" berkaitan dengan dewa matahari (Sun), "Monday" dengan dewa bulan (moon), "Tuesday" dengan dewa Tiu, "Wednesday" dengan dewa Woden, "Thursday" dengan dewa Thor, "Friday" dengan dewa Freya, "Saturday" dengan Saturnus. Jadi, jika mau konsisten, sebaiknya mereka yang menolak menyebut Easter, juga menolak semua nama hari dalam bahasa Inggris yang kedengarannya juga berbau pagan. Namun, Gereja Katolik menguduskan hal-hal yang dulunya mengacu kepada pagan, dengan memberi arti/makna baru dan mengonsekrasikannya kepada Tuhan. Contoh, bangunan gereja-gereja pada abad-abad pertama yang tidak mereka bangun sendiri, melainkan dulunya bekas kuil-kuil pagan yang sudah ditinggalkan, lalu dirombak dan disesuaikan dengan prinsip dan kebutuhan ibadah Kristiani, dan dikonsekrasikan kepada Kristus. Allah penguasa segalanya, juga berkuasa menguduskan segala sesuatu di dalam nama-Nya. Dengan demikian, tidak perlulah kita risau jika menggunakan kata “EASTER”. Jangan lupa bahwa Kitab Suci menyebutkan tanda kelahiran Kristus dengan bintang di TIMUR (Mat 2:2,9) sehingga makna TERANG di TIMUR (East) memperoleh makna yang baru dan sempurna, setelah kelahiran dan terutama Kebangkitan Kristus. Kita harus meninggalkan kegelapan dan masuk ke kehidupan terang. Kehidupan terang dimulai sejak terbitnya matahari yang selalu muncul dari timur. Ingat, terang itu baik! Sementara, kata “PASSOVER” berarti melewati kematian. “Passing over the death”. Ada pihak yang sama-sama berhasil melewati kematian dalam kedua jenis paskah. Pertama adalah orang Yahudi yang berhasil lolos dari hukuman kematian anak sulung dan lepas dari perbudakan di Mesir. Kedua adalah Yesus Kristus yang berhasil mengalahkan maut dan lepas dari perbudakan dunia. Orang Yahudi dilewati maut karena lambang darah anak domba, sementara Yesus mengambil posisi sebagai domba yang menggunakan darahnya agar maut melewati kehidupan setiap orang yang percaya kepadaNya. Kembali pada brodkes gosip murahan tadi, juga di sana disinggung untuk "jangan merayakan Paskah dengan tradisi telur paskah dan gambar kelinci sebab itu adalah kebiasaan kafir dan kamu akan berdosa." TELUR dan KELINCI hanyalah produk tradisi saja, boleh digunakan, boleh tidak. Namun, tidak perlu diharamkan atau di-"kafir-kafirkan." TELUR merupakan simbol dari perayaan Paskah di berbagai gereja. Mengapa telur dijadikan suatu simbol dalam perayaan Paskah? Ternyata, hal ini berkaitan erat dengan kebiasaan di Timur Tengah kuno. Orang Mesir dan Persia kuno punya suatu kebiasaan menghias telur yang kemudian menukarkannya dengan temannya. Kebiasaan ini kemudian diikuti oleh orang Kristen di Mesopotamia (daerah Irak-Iran sekarang), yaitu dengan memberikan telur-telur kepada orang lain pada perayaan Paskah untuk mengingatkan kebangkitan Yesus Kristus. Telur merupakan tanda kelahiran baru. Mengikuti Kristus harus diikuti proses kelahiran baru. KELINCI di berbagai negara dijadikan sebuah simbol dalam perayaan Paskah. Barangkali kita bertanya, mengapa kelinci? Kelinci itu sendiri menyimbolkan kesuburan. Kelinci dikenal sebagai binatang yang memiliki banyak anak. Oleh karena sifatnya yang demikian, kelinci kemudian dijadikan lambang kehidupan yang berlimpah di dalam Kristus. Pengikut Kristus yang sudah lahir baru pun harus selalu subur seperti kelinci. Pengikut Kristus harus subur menghasilkan karya dan pelayanan sebagai bentuk ucapan syukur. Menurut saya sendiri, “PASSOVER” dan “EASTER” hanyalah dua buah kata yang merujuk kepada arti yang sama. Kemenangan atas maut. Itu intinya. Pemusatan pikiran kepada kemenangan tersebut lebih penting ketimbang debat kusir atau pesta hura-hura minim arti yang mengatasnamakan Paskah. Setelah kita memahami penjelasan di atas, hendaknya kita lebih bijak dan tidak memaksakan pengertian Easter berhubungan dengan dewi Ishtar atau Eostre. Jangan lagi menghujat kata "Easter" dalam logika murahan seperti tulisan di belakang angkot atau truk. Jadilah seorang Katolik yang bijak, menimbang dengan baik pemahaman kata, dan tidak gampang teperdaya pesan-pesan brodkes di smartphone atau media sosial. Marilah menyaring dengan bijak macam-macam berita hoaks, kabar bohong, ajaran abal-abal, "cocokologi", kabar naif akibat ketidak-tahuan dan kebodohan. Jangan mudah terprovokasi berita-berita yang beredar. Mari belajar Kitab Suci dengan benar. Mulailah banyak membaca literatur. Jangan gampang percaya pesan-pesan brodkes, supaya tidak gampang dibohongi oleh mereka yang otaknya kurang piknik dan kurang pendidikan. Happy PASSOVER! Happy EASTER! SELAMAT PASKAH! Disarikan dari berbagai sumber Serpong, Sabtu, 30 Maret 2024 ✍ Febry et Scientia

  • CLAUDIA, ISTRI PILATUS

    Saat Perayaan Jumat Agung, sebagian dari bacaan Injil hari itu mengisahkan pengadilan Yesus di hadapan Gubernur Pontius Pilatus. Ada satu tokoh yang muncul namun jarang dibahas, yakni istri Pilatus. Istri Pontius Pilatus adalah tokoh tak bernama dalam Perjanjian Baru, yang hanya muncul dalam sebuah ayat tunggal dari Injil Matius. Menurut Matius 27:19, ia mengirim sebuah pesan kepada suaminya yang memintanya agar tidak mencelakai Yesus Kristus. Pilatus tidak menggubris peringatan istrinya. Namun istri Pilatus disebut jelas dalam apokrifa Injil Nikodemus (diyakini ditulis sekitar pertengahan abad ke-4), yang memberikan versi lebih mendalam dari bagian mimpi tersebut ketimbang Injil Matius. Istri Pontius Pilatus itu dalam tradisi sering disebut bernama Claudia Procula atau hanya disebut Claudia. Sejauh yang bisa ditelusuri, Claudia Procula dinyatakan martir oleh Gereja Ortodoks Yunani, Gereja Koptik, dan Gereja Etiopia dan diperingati setiap tanggal 27 Oktober atau 25 Juni. Gereja-gereja ini mempercayai bahwa setelah peristiwa wafat dan kebangkitan Kristus, Claudia menjadi pengikut Jalan Tuhan serta dibunuh menjadi martir karena imannya itu. Maka mereka menghormatinya, bahkan cukup tersebar pula ikon tentang dia. Dialog imajiner antara Pilatus dan istrinya, Claudia di bawah ini mungkin dapat membantu memahami siapa Claudia: Tersebutlah, Pontius Pilatus gundah gulana setelah ternyata tidak bisa mengubah dakwaan Imam Agung Kayafas atas Yesus. Dia diancam akan diadukan ke kaisar Roma jika berani membebaskan Yesus. Terlebih, sebelumnya, istrinya, Claudia, telah mengingatkan untuk tidak mempersulit orang Nazaret itu. Claudia diganggu mimpi buruk mengenai Yesus, yang belum dikenalnya itu. Pilatus: Hoii... ngapain kau di sini? Febry: (gemetaran) Nggak, Bos... Cuma nyapu. Claudia: Biarkan saja, dia tukang sapu baru... anak ini baik kok. Claudia: Sekarang kau sudah puas. Kau sama sekali tidak mengindahkan kecemasan saya berkaitan dengan mimpi itu. Saya memang tidak tahu politik. Tapi kiranya cukup tahu bahwa seseorang boleh dihukum kalau kesalahannya benar-benar dapat dibuktikan. Pilatus: Aduh, tahu apa kamu tentang benar-salahnya seseorang dalam dunia politik. Kau mimpi buruk dan percaya begitu saja seperti kaum wanita umumnya, lalu campur-adukkan mimpi dengan masalah terdakwa bernama Yesus itu. Mungkin kau makan terlalu kenyang di malam itu. Orang yang tidur dengan perut terlalu kenyang selalu bermimpi buruk. Claudia: Lebih baik bermimpi buruk daripada menjatuhkan hukuman yang buruk. Atau kau ingin mengelabui mata saya dengan mengatakan bahwa Yesus itu betul-betul pemberontak dan ancaman bagi Roma? Pilatus: Bukan dia yang menjadi ancaman sesungguhnya, melainkan Mahkamah Agama dan antek-anteknya. Kalo saya membebaskan Yesus, saya akan menjadi musuh mereka, dan keonaran akan terjadi. Mau tak mau, satu orang harus dikorbankan untuk menjamin ketentraman. Tugas saya adalah menjaga perdamaian. Claudia: Kedamaian dalam ketidakadilan? Ini justru keluar dari mulut seorang yang ditunjuk Roma untuk menjamin kebenaran? Pilatus: Sudah, sudah! Saya benci kata-kata muluk. Apa itu kebenaran? Apa artinya keadilan? Keadilan berfungsi menjaga peraturan, ketenangan, dan kedamaian. Ini yang saya patuhi. Claudia: Saya tidak mengerti kamu ini. Tadinya engkau berniat membebaskannya. Mengapa lalu berubah? Pilatus: Syukurlah kalo engkau juga melihatnya. Tapi, dalam rentetan proses itu timbul soal baru terutama berkaitan dengan rencana para imam untuk mengajukan kasus ini ke kekaisaran. Hal itulah yang menciutkan niat saya untuk membebaskan Yesus. Claudia: Niatmu itu setengah hati. Kau pakai amnesti Paskah untuk melepaskannya. Tapi mereka lebih menghendaki pembebasan Barabas yang jelas-jelas pemberontak. Hanya saja, engkau tidak tulus sehingga sidang itu diakhiri dengan tindakan mencuci tangan, menyatakan Yesus tak bersalah, seraya mengatakan: “Ambillah dia dan buatlah seturut kehendak kamu!” Apa artinya itu? Menyatakan orang tak bersalah tetapi menyerahkannya untuk dihukum sesuka hati? Pilatus: Aduhhh, coba tenangkan dulu hatimu dan berpikir waraslah. Mereka membawa Yesus kepada saya dan mengatakan bahwa dia menghasut rakyat untuk melawan kaisar. Saya mengadili terdakwa itu dan ternyata dia adalah seorang guru yang saleh dan ajarannya tidak menentang Roma. Oleh karena saya ingin membebaskannya... Claudia: Ya untuk itu, engkau bisa dan berkuasa.... Pilatus: Jangan potong pembicaraanku! Tetapi pada saat yang sama, pembebasannya potensial menyebabkan huru-hara. Oleh sebab itu saya mengambil keputusan lain. Bisa dilihat sendiri, akhirnya adalah kedamaian di tanah Yudea. Seandainya kuputuskan pembebasannya, dan terjadi kerusuhan, bukankah kita juga yang dipersalahkan? Halal bukan, menumpahkan darah satu orang demi perdamaian umum? Claudia: Saya sama sekali tidak mengerti soal itu. Pilatus: Makanya kamu tak usah banyak omong. Saya diutus ke Yudea bukan atas nama kepentingan pribadi sebagai sarjana filsafat atau pakar moral. Saya ada di sini untuk menjamin dan melindungi kepentingan Roma. Claudia: Jadi engkau cemas akan posisimu ketika engkau menyerahkan Yesus? Pilatus: Lho, jangan putar balikkan perkataan saya. Yang mau saya katakan ialah, dalam pertimbangan mengenai kepentingan orang Roma, Yesus tidak dapat diselamatkan. Pada dasarnya hukuman mati atas Yesus dijatuhkan bukan oleh saya, melainkan oleh Sanhedrin. Saya hanya tidak dapat mengubahnya. Itu saja pointnya. Claudia: Lebih gentleman katakan saja bahwa engkau tidak ingin terlibat dalam peristiwa itu. Melepas tanggung jawab! Pilatus: Semua kondisi harus diperhitungkan dalam permainan politik. Kalau mau berkecimpung dalam dunia politik, harus sanggup menjalin hubungan. Berpolitik bukan berarti bermimpi di alam hampa. Claudia: Bukankah tujuan dari politik adalah mengamalkan keadilan dan kebenaran? Pilatus: Jangan banyak omong lagi, dungu! Coba tunjukkan, adakah contoh dalam sejarah politik di mana seorang penguasa di tanah jajahan mengorbankan diri demi membebaskan seorang pengembara saleh di daerah itu? SAMA SEKALI TIDAK ADA!!!! (Pembicaraan berakhir. Claudia berlalu tanpa berkomentar lebih jauh. Saya mengikutinya sambil mematikan perekam yang kupakai untuk mengabadikan pembicaraan mereka) [Diolah kembali dari karya imajiner Lianto] Catatan kecil Jakarta, 27 Maret 2024 📝 Febry Silaban

  • PER MARIAM (ET JOSEPH) AD JESUM

    Pada suatu hari, dengan sedikit nada menyelidiki, Tuhan Yesus mendatangi Santo Petrus, yang memegang pintu gerbang surga, "caeli porta", yang punya kuasa untuk mengizinkan seseorang untuk masuk surga atau tidak. Tuhan Yesus mendatangi dia, karena beliau melihat ada banyak sekali orang yang masuk surga, tetapi mereka yang selama hidupnya di dunia ini benar-benar tidak patut, banyak bikin dosa dan pelanggaran. Pokoknya, benar-benar tidak menjadi suri teladan hidup yang baik sebagai orang yang beragama dan beriman. Begitu bertemu Petrus, Tuhan Yesus bertanya: "Petrus, mengapa ada banyak sekali orang yang masuk surga? Padahal mereka tidak layak sebenarnya masuk surga?" Karena tidak punya jawaban dan penjelasan langsung saat itu, Petrus pun berjanji untuk memberi jawaban besok harinya. Oleh karena itu, hari ini dia berjanji untuk melakukan penyelidikan terlebih dahulu. Lalu turunlah Petrus dari takhta Porta Caeli lalu mulai meninjau keliling taman surga. Setelah sampai di salah satu tembok surga, ia melihat ada tangga dan di ujung tangga itu ada jendela yang cukup besar, pas untuk meloloskan tubuh seorang manusia dewasa ke dalamnya. Penasaran dengan hal itu, maka Petrus pun menaiki tangga tersebut. Setelah sampai di atas, ia melongok keluar jendela. Di luar sana ia melihat seorang pria tua, jenggotan sedang bekerja bikin tangga, lengkap dengan gergaji, palu, dan serut, serta pelbagai macam perlengkapan lain sebagai tukang kayu. Maka Petrus pun keluar dan turun melalui jendela itu menemui bapa tua tadi. "Bapa tua, bapa yang bikin tangga dan lobang jendela itu?" Dengan rada takut bapa tua itu menjawab: "Iya, Tuan." "Ikut saya yah... tetapi harus lewat pintu gerbang surga. Jangan lewat tangga dan jendela itu." Bapa tua itu pun ikut. Setelah sampai di dalam, Petrus menyuruh bapa tua itu tunggu di pintu gerbang surga, lengkap dengan perlengkapan tukang kayunya. Tanpa harus menunggu sampai besok harinya, Petrus pun menghadap Tuhan Yesus untuk melapor. "Lapor, Tuhan. Saya sudah menemukan seseorang yang saya curigai telah menyelundupkan orang-orang, bahkan termasuk para pendosa ke dalam surga." "Mari ikut saya Tuhan." Maka Tuhan Yesus pun turun dari takhtaNya dan mengikuti Petrus ke pintu gerbang surga. Begitu Tuhan Yesus melihat bapa tua itu, tiba-tiba Ia sudah mau menutup kasus itu. Tetapi, karena ini urusannya Petrus, Ia pun sabar menunggu apa kata penyelidikan Petrus. "Tuhan Yesus, ini bapa tua yang saya sebut tadi." Lalu Tuhan Yesus, dengan berlagak tidak kenal bapa tua itu, mendekati bapa tua itu: "Bapa tua, apa yang kau lakukan?" "Saya bikin tangga dan getok tembok bikin jendela." "Atas permintaan siapa?" tanya Tuhan Yesus lebih lanjut. Bapa tua itu menjawab dengan menunjuk kepada seorang perempuan yang tanpa mereka sadari sudah mendekati mereka. Begitu Tuhan Yesus menoleh ke arah telunjuk bapa tua itu, Ia melihat sang Bunda Maria yang memancarkan senyum kebundaan yang teramat manis. Melihat itu, Tuhan Yesus pun berkata kepada Petrus. "Petrus, case-closed yah... tidak usah dilanjutkan." Lalu Tuhan Yesus buru-buru kembali lagi ke takhtaNya di sisi kanan Bapa. Rupanya, banyak yang meminta pertolongan sang Bunda. Walaupun sang Bunda itu bergelar "Felix Caeli Porta", toh ia tidak bisa juga melewati birokrasi pintu surga yang kuncinya dipegang Petrus. Terpaksa Bunda pun meminta jasa seorang tukang kayu dari Nazaret, untuk membuat tangga di taman belakang surga sekalian membobol tembok. Banyak orang lolos masuk surga dengan menaiki tangga dan masuk ke dalam lewat jendela itu. Hehehehehehe.... tertawalah... karena surga banyak tawa dan canda juga. "Melalui Maria dan Yoseph, kita sampai kepada Yesus" ✍Jakarta, 19 Maret 2024 Febry Silaban 🔹Selamat HR St. Yoseph, Sang Pekerja

  • SALAH KAPRAH: Malam Paskah & Minggu Paskah

    Sering terjadi animo umat Katolik sangat tinggi dalam menghadiri perayaan misa MALAM PASKAH, melebihi animo terhadap perayaan MINGGU (pagi) PASKAH. Namun, sadarkah kita, kebiasaan ini justru menjadi SALAH KAPRAH selama ini. Loh, kok bisa? Apa salah kaprahnya? Sebenarnya hal ini tidak menjadi masalah yang berarti ketika umat memang menyadari makna dari perayaan misa Malam Paskah, serta tidak menghilangkan makna dari perayaan Minggu Paskah. Penting dipahami bahwa peringatan kebangkitan Yesus sesungguhnya baru diselenggarakan pada Minggu Paskah. Jadi sudah selayaknyalah antusiasme umat tetap BERPUNCAK pada misa MINGGU PASKAH. Malam (Sabtu) Paskah atau Vigili Paskah adalah saat di mana kita merasakan sukacita sambil berjaga-jaga menantikan kebangkitan Tuhan. Kata vigili berasal dari bahasa Latin, vigilare yang artinya berjaga-jaga. Yesus yang wafat akhirnya beralih dari alam kematian menuju kebangkitan. Pada perjanjian lama, Malam Paskah merupakan peristiwa penantian lewatnya Tuhan di tanah Mesir untuk membebaskan bangsa Israel dari perbudakan Firaun. Saat Malam Paskah nanti, umat Katolik juga akan mengenangkan kembali Sakramen Baptis yang telah diterima. Sakramen Baptis sendiri merupakan tanda kita diterima sebagai anggota keluarga Gereja Katolik. Barangkali, itulah yang menyebabkan Malam Paskah selalu dirayakan secara meriah. Salah kaprahnya, apa lagi? Terkadang praktik gereja parokial yang membuat kesan begitu muncul dengan sendirinya. Minggu Paskah (pagi) selalu dibuat sebagai Minggu Paskah khusus untuk anak sekolah minggu atau "BIA-BIR" (Bina Iman Anak/Remaja). Alhasil, liturgi Minggu Paskah menjadi terkesan "kalah kelas" dibanding liturgi Malam Paskah. Mari kita lihat praktik di gereja para frater atau calon imam. Contoh, di gereja STSP Pematangsiantar, tempat para calon imam projo dari keuskupan-keuskupan di Sumatera dan ordo lain merayakan misa Minggu. Pada saat para fraternya menjadi petugas liturgi, praktik kebiasaannya juga sama seperti yg dilakukan paroki-paroki di luar. Upacara Malam Paskah selalu lebih meriah dibanding Minggu Paskah pagi. Semangat para fraternya mengikuti misa Malam Paskah justru lebih besar dibanding paginya. 😃 Berbeda mungkin masa pendidikan di Seminari Menengah Pematangsiantar. Pada perayaan Malam Paskah dan Paskah Minggu pagi tidak terasa berbeda kelasnya. Sama-sama meriah dan agung. Apalagi, setelah misa Paskah ada suguhan "menu daging istimewa" di kamar makan untuk para seminaris. Minggu pagi Paskah serasa pesta besar dan meriah. 😃👍. Memang idealnya, Vigili Paskah itu dirayakan pada jam 00.00 (tengah malam) seperti praktik di Vatikan. Namun, jika Vigili Paskah dirayakan di Indonesia pada jam tengah malam tersebut, dipastikan akan sangat sedikit umat yang bisa hadir berpartisipasi dalam misa itu. Karena itu, demi alasan pastoral (ad rationes pastorales), misa Malam Paskah di banyak paroki mulai dirayakan pada Sabtu sore atau malam. Sekali lagi, perlu digarisbawahi dan diingat bahwa: MINGGU PASKAH (pagi) disebut juga Hari Raya Kebangkitan Tuhan. Itu adalah PUNCAK peringatan liturgi Gereja Katolik. Hari Raya Kebangkitan Tuhan ini adalah HARI RAYA DARI SEGALA HARI RAYA. Hari itu menjadi hari yang amat istimewa karena Yesus telah bangkit dari kematian. Yesus telah mengalahkan dosa dan maut dengan kebangkitan-Nya. > Konstitusi Liturgi atau Sacrosanctum Concillium (SC) No. 97 juga dengan tegas menyatakan: "Misa Minggu Paskah harus dirayakan dengan meriah." Secara singkat: MALAM PASKAH: penantian kebangkitan Tuhan MINGGU PASKAH: hari raya kebangkitan Tuhan Maka anggapan bahwa, ”Saya sudah hadir ikut Misa tadi malam (Paskah), maka hari Minggu (Paskah) tidak perlu lagi” adalah anggapan yang TIDAK TEPAT! Semoga! 😇 Catatan kecil Serpong, 16 Maret 2024 📝 Febry et Scienti

  • Pelayanan Pastoral dan Evangelisasi dengan Sistem yang Berbasis Data

    Rapat Dewan Paroki Inti – Paroki Alam Sutera Paroki Alam Sutera Gereja Santo Laurensius mengadakan Rapat Dewan Paroki Inti. Rapat dilaksanakan di ruang Kasih - Gedung Karya Pastoral pada hari Minggu, 3 Maret 2024 pukul 10.30. Dihadiri oleh 42 peserta termasuk Romo Hadi Suryono, Romo Boni, Romo Yudi, para ketua seksi, koordinator wilayah, kepala bagian dan dewan paroki harian, rapat ini berlangsung hingga tengah hari. Dalam rapat ini selain disampaikan tentang keuangan gereja juga dipaparkan data SAPA tahun 2023-2024 serta data Biduk umat gereja Santo Laurensius. Saat memaparkan analisa data Biduk terkait dengan pastoral kehadiran, Johannes Winata selaku Sekretaris I Dewan Paroki Alam Sutera menjelaskan data demografis dan sebaran umat. Data-data ini sungguh relevan dan bisa digunakan oleh seksi-seksi di paroki dalam membidik kelompok-kelompok umat yang sesuai dengan pelayanannya. Sistem dan Data Romo Hadi Suryono dalam menyampaikan refleksinya di Rapat Dewan Paroki Inti ini, mengutarakan pokok-pokok pemikirannya di bawah ini (tulisan utuh Romo Hadi Suryono seperti disampaikan kepada penulis, terima kasih untuk tulisan ini) Saudara-saudari terkasih,  kita sadari bersama bahwa dewasa ini Gereja berada di tengah Era Digital yang begitu maju. Masa dimana era digital, juga ikut mengubah Wajah Gereja dalam karya Pelayanan Pastoral (intern) dan karya tugas Perutusan/ Evangelisasi di tengah dunia (ekstern) . Kita syukuri bersama bahwa Keuskupan Agung Jakarta (termasuk di dalamnya seluruh paroki-paroki di KAJ serta Paroki Alam Sutera) telah mengambil sikap yang terbuka dan jelas yakni: ikut berjalan bersama dan mengambil bagian membangun kehidupan bersama yang lebih baik di era digital dewasa ini. Disadari, kalau dalam berpastoral dan berevangelisasi, Gereja tidak terbuka terhadap kemajuan zaman, maka gereja akan ketinggalan dan akan ditinggalkan. Sebaliknya kalau dalam berpastoral dan berevangelisasi, Gereja terus menerus berani terbuka terhadap perubahan zaman, mengikuti arus tanpa harus terbawa arus, menggunakan perkembangan dunia digital seluas-luasnya untuk karya pelayanannya, saya yakini Gereja  akan menjadi Garam & Terang  yang bisa mengubah dunia serta mampu menciptakan kebaikan bersama (Bonum Commune). Dengan demikian, pastoral dan evangelisasi-baru dengan Sistem yang Berbasis Data, sekarang menjadi sebuah keharusan bagi Gereja, bukan lagi sebuah tawaran. Suka atau tidak suka, sistem yang baik dan data-data yang up-to-date akan sangat membantu Gereja dalam berpastoral dan berevangelisasi serta meminimalisir kesalahan yang ada dalam pelayanannya. Disinilah, saya melihat peran Gereja Muda dan Kaum Muda Paroki, menemukan dan menjalankan perannya. Mengapa harus Gereja Muda dan Kaum Muda yang bergerak dan mengambil peran yang sangat penting ini ?. Karena Gereja Muda dan Kaum Muda bukanlah sekadar Harapan Gereja masa depan, melainkan gereja masa kini. Kaum muda adalah pribadi-pribadi yang dinamis, inovatif, terus bergerak dan menguasai dunia digital. Dengan penguasaan teknologi yang canggih, saat Gereja Muda serta Kaum Muda untuk tampil dan memimpin gerakan gerakan baru dalam tubuh Gereja bagi kebaikan bersama untuk dunia. Tugas DPH adalah menjadikan Gereja Muda dan Kaum Muda menyadari bahwa mereka adalah tulang punggung dinamika kehidupan dan kemajuan paroki. Caranya dengan melibatkan sebanyak-banyaknya Kaum Muda sebagai subyek dan bukan sebagai obyek berpastoral. Siapkan dengan serius, baik sistem pembinaan iman yang kuat, kemampuan megembangkan paroki dengan sistem dan data yang terus di up-date dan tentu dana yang baik pula. Akhirnya: sistem yang baik dalam berpastoral dan evangelisasi yang ditopang dengan pelayanan berbasis data, hanyalah sebuah sarana untuk pelayanan yang lebih baik demi kebaikan umat beriman dan masyarakat pada umumnya. Sistem dan Data tidak boleh menjadi tujuan. Sistem dan Data sama sekali tidak boleh membelenggu. Sistem dan Data harusnya  menjadi sarana untuk membantu Gereja yakni menghadirkan Wajah Kerahiman Allah yang berbelas Kasih dan menjadikan Gereja sebagai Sakramen Keselamatan. Di sini lah Gereja harus hadir. (AJ Barnas)

  • HARI INI BELUM PRAPASKAH, TETAPI MASA PUASA

    Ya, memang, sejak Rabu Abu kemarin hingga hari ini kita belum memasuki Masa Prapaskah, melainkan masih memulai hari atau Masa Puasa. Loh, kok bisa beda begitu? Kiranya masih banyak umat yang belum memahami bagaimana menghitung Masa Prapaskah dan Masa Puasa, dimulai dari mana dan berakhir di mana. Apakah hitungan 40 hari Prapaskah sama dengan 40 hari puasa-pantang? Oh, tak sama. Banyak orang mengidentikkan begitu saja 40 hari Prapaskah dengan 40 hari puasa-pantang, padahal tidaklah demikian. Itu dua hal yang beda meski terkait erat. Quadragesima (40 hari masa Prapaskah) adalah kurun waktu berturut-turut (tidak putus-putus) tiap hari termasuk hari Minggu, hingga berjumlah 40 hari. Dasar penghitungan adalah dokumen resmi Gereja Katolik, yaitu Litterae Circulares de Festis Paschalibus Praeparandis et Celebrandis (terjemahannya “Perayaan Paskah dan Persiapannya", disingkat PPP). Menurut PPP no. 23, awal 40 hari Prapaskah adalah Minggu I Prapaskah dan berakhir pada hari Kamis dalam Pekan Suci (PPP no. 27). Perhitungan detailnya: Minggu I sampai V Prapaskah ada 5 x 7 hari = 35 hari. Setelah itu Minggu Palma. Dari Minggu Palma sampai Kamis Putih ada 5 hari, yaitu Minggu, Senin, Selasa, Rabu dan Kamis. Total menjadi 40 hari. Maka dari Minggu I Prapaskah sampai Kamis Putih ada 40 hari. Setelah itu masuk ke Trihari Suci Paskah. Kalau puasa-pantang, bagaimana? Tidak mungkin berturut-turut setiap hari karena ada kebiasaan Gereja Katolik mengecualikan hari Minggu untuk berpuasa/pantang. Orang Katolik tidak berpuasa pada hari Minggu. Kalau demikian, jumlahnya hanya 34 hari, dong? Benar, tapi itu 'kan belum termasuk dihitung tambahan dari 6 hari lainnya, yakni Rabu Abu, Kamis, Jumat, Sabtu (setelah Rabu Abu), lalu hari Jumat Agung, dan Sabtu Suci. Maka totalnya tetap 40 hari. Dengan demikian, kalau ada orang Katolik mau berpuasa-pantang 40 hari penuh, beginilah cara hitungnya: Rabu Abu sampai Sabtu Suci minus enam hari Minggu. ERGO ⏯ Hitungan 40 hari masa Prapaskah (Quadragesimae) menyertakan hari-hari Minggu. Sementara hitungan 40 hari puasa/pantang mengecualikan hari-hari Minggu. NOTA BENE ⛔ Berpantang dan berpuasa pada hari Rabu Abu dan Jumat Agung. Sementara, pada hari Jumat lainnya (selama masa Prapaskah) hanya berpantang saja. Jakarta, 16 Februari 2024 ✍ Febry et Scientia

  • BERKAT EPIFANI

    Sebentar lagi, kita akan merayakan Pesta Penampakan Tuhan atau Hari Minggu Epifani. Seperti biasa, nanti setelah Misa Epifani, saya akan menuliskan dengan kapur di depan pintu rumah saya: 20 + C + M + B + 24 Apa itu? Itu adalah sebuah tradisi di Gereja Katolik – termasuk juga dipraktikkan Anglikan, Lutheran, dan Metodis – yang disebut dengan "Berkat Epifani" (Epiphany Blessing), suatu berkat rumah tradisional yang dilakukan oleh setiap kepala keluarga Katolik. Tradisi ini dilakukan pada Hari Raya Epifani – kebetulan saat ini jatuhnya pada hari Minggu, 7 Januari 2024. Dikenal juga sebagai ‘mengapuri pintu’ (chalking the door), Berkat Epifani adalah salah satu cara keluarga dan individu untuk meminta berkat Tuhan ke dalam rumah dan kehidupan keluarga sepanjang tahun. Tradisi ini secara biblis mengingatkan kembali pada kisah Musa ketika orang Israel diminta untuk mengoleskan darah domba atau kambing di tiang pintu dan di atas pintu rumah. Keluaran 12:13 "Darah itu menjadi tanda bagimu pada rumah-rumah di mana kamu tinggal: Apabila Aku melihat darah itu, maka Aku akan lewat dari pada kamu. Jadi tidak akan ada tulah kemusnahan di tengah-tengah kamu, apabila Aku menghukum tanah Mesir." Ritus pemberkatan Epifani ini sangat sederhana. Diawali dengan salam pembuka, pembacaan singkat dari kutipan Injil Matius 2:1-12, lalu penulisan simbol 20 +C +M +B +24 dengan kapur oleh seorang anggota keluarga di atas ambang pintu masuk utama rumah, dan diakhiri doa singkat bersama. Berikut urutannya. Semua anggota keluarga berkumpul di dekat pintu masuk utama rumah. Mulailah dengan Tanda Salib +. Pemimpin: Damai sejahtera bagi rumah ini dan bagi semua yang tinggal di sini, dalam nama Tuhan. Semua: Syukur kepada Allah. Pembaca: Membaca kutipan Matius 2:1-12 Kemudian, kepala keluarga melanjutkan dengan menuliskan huruf C+M+B dengan kapur tulis pada dinding atau pintu di depan rumah atau di pintu gerbang. Perlu diketahui, huruf-huruf C, M, dan B ini memiliki dua makna. Pertama, ketiga huruf menunjuk pada inisial tiga nama Raja dari Timur atau orang Majus yang bijak yang datang ke Betlehem: Caspar + Melchior + Balthasar. Hati mereka sangat bergembira waktu menemukan Maria, Yosef, dan bayi Yesus. Semoga kita juga mencari dan menemukan Kristus dalam rumah kita. Makna kedua; Ketiga huruf C M B adalah singkatan dari kalimat Latin: Christus Mansionem Benedicat. Jadi, saat menuliskan C+M+B, sambil diucapkan kata-kata Christus Mansionem Benedicat atau bahasa Indonesianya “Semoga Kristus memberkati rumah ini”. Ya, Kristus memberkati rumah yang didatangi tiga raja dan pengikutnya. Kemudian, dalam simbol itu, ditambahkan lagi angka dari Tahun Baru, tahun 2024. Angka tahun tersebut ditulis terpisah, di depan 20 dan di belakang 24. Spasi-spasi di antara angka tahun dan ketiga huruf diisi dengan tanda salib kecil. Tanda “+” melambangkan salib, sebuah pengingat bahwa melalui sengsara, wafat, dan kebangkitan Kristus, semua rahmat mengalir di dalam keluarga. Akhiri dengan doa singkat berikut ini bersama-sama seluruh keluarga: Semua: Tuhan Allah langit dan bumi, Engkau telah menyatakan Putra Tunggal-Mu kepada setiap bangsa dengan bimbingan sebuah bintang. Berkatilah rumah ini dan semua yang tinggal di sini dan semua yang berkunjung. Semoga kami dilimpahi kesehatan, kebaikan hati, kelembutan, dan ketaatan pada ajaran-Mu. Penuhi kami dengan terang Kristus, agar kasih kami terhadap satu sama lain dapat disalurkan kepada semua orang. Demi Kristus, Tuhan dan perantara kami. Amin. Kemudian ditutup dengan Tanda Salib +. Berkat Epifani adalah cara yang luar biasa untuk melibatkan seluruh keluarga, teman, dan bahkan tetangga dengan doa keluarga yang memohon, supaya pada Tahun Baru ini Tuhan berkenan memberkati dan melindungi rumah serta keluarga ini. Tulisan simbol di atas pintu itu juga akan menjadi bahan perbincangan menarik sepanjang tahun. Saat teman dan anggota keluarga datang dan pergi melewati pintu rumah, pasti akan ada selalu pertanyaan tentang rangkaian simbol unik ini. Semoga tahun 2024 benar-benar diberkati. Selamat menyambut Pesta Epifani! Ditulis oleh Febry Silaban, Penulis Buku "YHWH, Empat Huruf Suci" Januari 2024

  • KUNKEL – SAPAAN PASTORAL ROMO KEPADA UMATNYA

    Salah satu program SKK Gereja Santo Laurensius - Paroki Alam Sutera yang sudah dijalankan selama lebih dari 10 tahun yang lalu adalah Kunjungan Keluarga (Kunkel). Program ini sudah berjalan sejak Romo Nono menjadi romo paroki Alam Sutera. Ini adalah upaya SKK untuk memenuhi salah satu tugasnya sesuai dari pedoman Komisi Kerasulan Keluarga KAJ yang disosialisasikan pada tahun 2012 yang lalu. Tentunya kita semua tahu adanya pepatah “tak kenal maka tak sayang.” Inilah yang mendasari adanya program Kunkel yang pada dasarnya merupakan “silaturahmi” atau “sapaan pastoral” dari seorang romo (gembala) kepada umatnya (dombanya). Pada dasarnya, umat tentunya senang dikunjungi oleh romo yang biasanya terlihat jauh karena posisinya ada di altar sehingga hanya bisa dilihat dari bangku umat. Kunjungan romo ke lingkungan untuk misa pun mungkin bisa dihitung jari selama setahun, itupun tentunya tidak memungkinkan adanya relasi pribadi antara romo dengan semua umat yang hadir. Para romo juga senang bisa berkunjung ke rumah umat karena bisa mengenal lebih dekat keluarga-keluarga yang ada di parokinya. Romo Nono, Romo Hardijantan, Romo Hadi, dan para romo lainnya sering menyebutkan tentang Kunkel ini pada waktu homili karena sangat menarik juga bagi para romo untuk mendengarkan kisah, harapan, dan masukan dari umat secara langsung. Kunkel ini melibatkan seluruh SKK Paroki dan SKK / Ketua Lingkungan yang ada. Berawal dari SKK Paroki yang meminta jadwal Kunkel dari semua romo setiap 3 bulan sekali, lalu diplot ke lingkungan-lingkungan yang akan dikunjungi beserta SKK Paroki yang akan mendampingi setiap kali Kunkel. Kunkel dilakukan pada hari biasa (Selasa/Rabu/Kamis) mulai jam 19-21. Biasanya ada 2 keluarga yang dikunjungi per lingkungan, di mana masing-masing keluarga biasanya memakan waktu 45 menit – 1 jam. Tidak ada kriteria khusus untuk umat yang akan dikunjungi, yang jelas sebisa mungkin bukan warga yang aktif / sudah dikenal oleh romo. Bisa jadi warga yang dikunjungi adalah yang akan diminta bantuan untuk menjadi ketua / pengurus lingkungan yang baru atau mempunyai intensi khusus yang perlu didoakan, misalnya ada anggota keluarga yang sakit. Setelah SKK Paroki mengeluarkan jadwal Kunkel ke grup SKK Lingkungan, SKK Lingkungan berkoordinasi dengan Ketua Lingkungan untuk memilih warga yang akan dikunjungi, lalu diinfokan ke SKK Paroki yang akan mendampingi romo paling telat 1 minggu sebelum hari H. SKK Paroki kemudian menginformasikan kepada romo tersebut sekaligus janjian tentang penjemputan pada hari H-nya dari Pastoran ke rumah umat yang akan dikunjungi. Pada hari H-nya, SKK Paroki menjemput romo lalu berkunjung ke rumah warga pertama yang dipilih. Diusahakan satu keluarga utuh (minimal yang serumah) bisa hadir waktu romo berkunjung. Dari pihak lingkungan, yang hadir cukup Ketua Lingkungan & SKK Lingkungan saja supaya tidak terlalu ramai. Umat yang akan dikunjungi tidak perlu menyiapkan apa-apa, minum air putih saja sudah cukup (boleh menyediakan sedikit snack jika tidak merepotkan). SKK Paroki akan membuka pertemuan tsb dengan memperkenalkan diri, lalu berterimakasih pada lingkungan & keluarga yang sudah menyediakan waktu, kemudian menjelaskan tentang program Kunkel ini serta tujuannya. Setelah itu, gantian dari pihak lingkungan & anggota keluarga yang dikunjungi yang memperkenalkan diri. Kemudian dilanjutkan ngobrol santai saja antara romo dengan keluarga yang dikunjungi. Bila keluarga yang dikunjungi masih malu-malu atau cenderung diam, maka SKK Paroki & pengurus lingkungan yang hadir bisa menjadi “jembatan” antara romo dengan keluarga yang dikunjungi tsb, misalnya dengan menawarkan apakah ada hal yang ingin ditanyakan kepada romo, atau sebaliknya dari pengurus lingkungan yang hadir yang menceritakan tentang keluarga yang dikunjungi tsb kepada romo. Acara Kunkel ini diakhiri dengan doa & berkat dari romo untuk keluarga yang dikunjungi, lalu foto bersama. Setelah keluarga pertama selesai, romo serta SKK Paroki & pengurus lingkungan yang hadir berjalan bersama ke keluarga kedua lalu hal yang sama dengan keluarga pertama akan dilakukan kembali. Setelah itu, SKK Paroki mengantar romo kembali ke pastoran. Kami bersyukur karena ada 5 romo saat ini di Paroki Alam Sutera & semuanya sangat komit serta bersemangat dengan Kunkel ini, sehingga sepanjang tahun 2023 ini, hampir semua lingkungan yang ada pernah dikunjungi. “Indah jika Kunkel ini menjadi tradisi, karena bisa menumbuhkan persaudaraan yang sejati.” Penulis: Johannes Pascal W.

  • Rapat Karya 2023 - Dewan Paroki Pleno Gereja Santo Laurensius

    Program yang Menekankan Martabat Manusia Untuk kali pertama sejak Pandemi Covid-19, Paroki Alam Sutera mengadakan rapat karya (Raka) di luar paroki tepatnya di Taman Bukit Palem Resort, Pancawati – Kabupaten Bogor pada tanggal 28 dan 29 Oktober 2023. Terakhir kali Raka di luar paroki diadakan pada tahun 2019 di Sukabumi, kemudian Raka tetap dilaksanakan secara daring di tahun 2020 dan 2021 semasa Covid, tahun 2022 Raka bisa dilakukan secara tatap muka di GKP paroki. Udara sejuk di lokasi benar-benar mendukung semangat dan rasa kebersamaan 160 peserta rapat karya yang terdiri dari para ketua lingkungan, koordinator wilayah, ketua seksi, kepala bagian, koordinator kelompok kategorial, PPG, TSBP dan dewan paroki harian. Hadir juga di Raka ini Romo Hadi, Romo Rudy, Romo Jerry CMF, Romo Boni, Romo Dista, Romo Vinsen, Romo Yudi dan beberapa karyawan Gereja. Terima kasih atas persiapan dan pelaksanaan Raka oleh panitia dari Wilayah 10 yang dikomandani oleh pak Thomas Suwandi Jamaya (“Jangan Marah Ya”), mulai dari praRaka 1 hingga 3 dan puncaknya di Raka ini. Romo Hadi - Pentingnya Berkolaborasi Romo Hadi selaku Ketua Dewan Paroki Alam Sutera berterima kasih atas program karya yang telah dibuat untuk tahun 2024 sejak pra-Raka pertama pada tanggal 4 September walaupun belum final. Dalam pesannya Romo Hadi melihat keceriaan dan kegembiraan yang diperlukan untuk membangun kebersamaan dalam pelayanan. Menurutnya, pelayanan itu tugas perutusan bersama, lewat baptisan dan krisma umat dilibatkan dalam tugas karya bersama di Paroki Alam Sutera. Beliau juga melihat ke belakang apa yang telah dewan paroki lakukan mulai dari pra-Raka yang mensosialisasikan apa yang akan kita kerjakan di tahun depan, membuat perencanaan baik program karya prioritas, program karya umum dan rencana anggaran biayanya untuk tiap seksi, bagian, kategorial, lingkungan dan lainnya. Program dan anggaran ini masih harus dikirim ke KAJ untuk mendapat masukan dan akan dikoreksi bila perlu hingga akhirnya program dan anggaran di SAPA dikunci pada akhir Desember 2023 oleh Romo Hadi. Tentang Tema Solidaritas dan Subsidiaritas untuk tahun 2024, Romo Hadi mengatakan bahwa itu melanjutkan tema Kesejahteraan Bersama, dimana Paus Pius ke-11 menekankan tentang martabat manusia. “Segala usaha yang dibuat di ruang ini untuk menjadikan manusia bukan sebagai sarana tapi sebagai tujuan untuk kesejahteraan bersama. Umat yang kita layani sebagai pribadi yang bermartabat, jangan sampai program kita mengesampingkan martabat manusia”, pesannya. Ditekankan pula pentingnya kolaborasi para romo, umat , perangkat dewan paroki pleno demi kesejahteraan umat di paroki. Program terwujud kalau ada mekanisme dalam menjalankan tugas-tugas itu. Dengan mekanisme itu kita jalan bergandengan tangan. “Dewan paroki, pelayan paroki jangan berjalan sendiri-sendiri. Kalau ada persoalan atau konflik agar diselesaikan, buat perbedaan menjadi sinergi bekerja bersama. Selalu ada jalan keluar asal kita berjalan bersama Tuhan”, Romo Hadi berpesan lebih lanjut. Menyinggung peran para ketua lingkungan (kaling), Romo Hadi menekankan bahwa para kaling memegang peranan penting sebagai garda terdepan dalam pelayanan pastoral paroki. Beliau mengucapkan banyak terima kasih kepada para kaling yang telah berdinamika dengan umat, yang berjumpa, berjuang dan menjalankan tugas perutusan dengan gembira dan tulus. “Karena Tuhan telah lebih dulu melayani kita semua, maka tidak ada alasan bagi kita untuk menolak tugas pelayanan.” lanjutnya. Api Unggun dan Pisang Rebus Panitia Raka kali ini membekali peserta dengan sesi soft skill tentang Manajemen Konflik dalam Komunitas Pelayanan Gereja yang dibawakan oleh Bapak Jus Felix Mewengkang & Bapak Frans Budi Santika. Skill ini diharap dapat membantu para pelayan gereja dalam berdinamika dengan kelompoknya masing-masing. Tak kalah penting Romo Boni dengan dengan pesan injili yang jelas memberikan renungan yang menguatkan semangat pelayanan peserta Raka. Acara lainnya? Ada juga api unggun di malam hari pertama Raka. Tak terkecuali semua bernyanyi berjoget hingga larut malam dengan suguhan sate ayam, kacang, jagung dan pisang rebus. Di pagi hari kedua ada senam pagi dengan bimbingan seorang instruktur. Semua bergerak bersemangat, sehatlah jasmani dan rohani di tengah Raka kali ini. Terima kasih Panitia Ketua panitia, Pak Thomas Jamaya mengucapkan terima kasih atas dipercayakannya wilayah 10 menjadi panitia pra-Raka 1,2 ,3 dan Raka tahun 2023. Beliau berpesan agar semua melayani umat dengan solidaritas dan subsidiaritas dengan sabar dan kerendahan hati dan bijaksana dengan memohon belas kasih dari Tuhan Jesus dan Bunda Maria dan Para Malaikat dan Orang Kudus. Panitia melakukan survey sederhana untuk pelaksanaan Raka yang diikuti 77 peserta, secara keseluruhan peserta puas atas pelaksanaan Raka tahun ini. Selamat dan Sukses untuk wilayah 10, selamat juga untuk semua peserta Raka atas tersusunnya Rencana Karya Paroki di tahun 2024. Semoga seperti pesan Romo Hadi – segala program kita semakin mengangkat martabat manusia. (AJ Barnas)

  • SYUKUR DAN TERIMA KASIH

    Karya Tuhan Ajaib dan Indah pada Waktu-Nya Delapan tahun lalu, tepatnya hari Sabtu, 5 September 2015, atas kebaikan hati Yayasan Tarakanita, Paroki Alam Sutera diijinkan menggunakan Aula SD Tarakanita Gading Serpong sebagai tempat ibadah sementara untuk melaksanakan perayaan Ekaristi. Misa perdana dilaksanakan setelah mendapat ijin dari RT/RW, tokoh masyarakat, agama, pemerintahan, TNI, Polri, FKUB, dan Kemenag. Mereka turut hadir dalam Misa perdana tersebut dipimpin oleh Romo Samuel Pangestu, Vikjen Keuskupan Agung Jakarta. Tempat ibadah sementara ini diadakan sebagai wujud semangat, harapan, dan perjuangan akan terbangunnya gedung Gereja Santa Perawan Maria Benteng Gading di Gading Serpong. Umat, ketua lingkungan, koordinator wilayah, DPH, para Romo, dan PPG berjuang bersama dalam menggalang dana, terus menjalin komunikasi, silaturahmi dengan tokoh masyarakat, agama, pemuda, ormas, RT/RW, Lurah, Babinsa, Bhabinkamtibmas, Polsek, Koramil, FKUB, Kemenag dan Pemda Kabupaten Tangerang guna mendapatkan IMB. Daya, usaha, perjuangan, kesabaran, dan doa yang tak pernah putus oleh seluruh umat itu berbuah manis. Atas ijin dan anugrah Tuhan sendiri, pada hari Senin, 31 Agustus 2020, Bapak Zaki Iskandar menyerahkan IMB Gereja Santa Perawan Maria Benteng Gading, Gading Serpong kepada Romo Hadi di Kantor Bupati Tangerang di Tigaraksa. Sehari kemudian, Selasa, 1 September 2020, IMB dilaporkan dan diserahkan kepada Bapak Uskup Ignatius Kardinal Suharyo, oleh Romo Hadi, DPH, dan PPG SPMBG. Panitia terus bergerak setelah cut and fill selesai, pada hari Kamis, 18 November 2021 dilaksanakan peletakan batu pertama pembangunan gedung Gereja SPMBG oleh Bapak Bupati Zaki Iskandar dan Bapak Uskup Ignatius Kardinal Suharyo. Pembangunan terus berjalan, hingga tepat pada hari ulang tahun ke 10 Paroki Alam Sutera, hari Sabtu, 15 Januari 2022, dilakukan upacara pemancangan tiang pancang pertama. Lalu progres berlanjut hingga setahun kemudian pada hari Senin, 30 Januari 2023 dilakukan upacara topping off berupa pemasangan potongan bagian puncak dari rangka baja atap. Kendati progres pembangunan belum 100%, Puji Tuhan area parkir dan aula sudah selesai dan Bapak Zaki Iskandar di akhir karya sebagai Bupati, berkenan meresmikan gedung Gereja Santa Perawan Maria Benteng Gading, pada hari Senin, 4 September 2023 bersama Bapak Uskup Igantius Kardinal Suharyo. Syukur dan terima kasih atas segala dukungan umat, Yayasan Tarakanita, tokoh masyarakat, tokoh agama Kelapa Dua, Medang, Pagedangan. Juga kepada tokoh pemuda, ormas, pemerintahan, TNI, Polri, FKUB dan Kemenag Kabupaten Tangerang, sehingga kerinduan umat Katolik Gading Serpong untuk memiliki tempat ibadah dapat terwujud. Mari bersyukur dan penuh sukacita menyambut perayaan Ekaristi perdana di Aula Gereja SPMBG hari Minggu, 22 Oktober 2023. Tuhan menyertai karya-karya kita dan biarlah Tuhan sendiri yang akan menyempurnakannya. Kemuliaan kepada Bapa, Putera, dan Roh Kudus, seperti pada permulaan, sekarang, dan sepanjang segala abad. Tuhan Yesus memberkati, Bunda Maria menyertai dan mendoakan. (AHS)

  • Doa Rosario Lingkungan St. Georgius

    Setiap lingkungan saat ini pasti sudah mengadakan salah satu kegiatan rutin kita setiap kali memasuki bulan Oktober yang juga dirayakan sebagai bulan Rosario, yaitu doa Rosario bersama, tak terkecuali lingkungan St. Georgius Gading Serpong, dimana tahun ini kami ingin sesuatu yang lebih spesial dengan mengadakan doa Rosario kedua berbarengan dengan acara ziarek di Lembah Karmel Cikanyere. Acara ziarah dan reakreasi ini memang khusus diadakan secara singkat hanya 2 hari, pada Sabtu - Minggu, tanggal 7 - 8 Oktober 2023, mengingat kesibukan para umat di lingkungan St. Georgius, namun tetap rindu untuk melakukan ziarek dan berdoa bersama. Pertemuan doa Rosario ketiga, kembali diadakan hari Selasa, tanggal 10 Oktober 2023, di salah satu rumah umat lingkungan St. Georgius di wilayah Gading Serpong. Kami sangat bersyukur dapat mengadakan doa bersama secara rutin, semoga semakin banyak warga St. Georgius yang bisa menyempatkan diri untuk mengikuti kegiatan ini di waktu mendatang.

bottom of page