Seksi Komsos

Komsos, Apa dan ke Mana

Bagi sebagian orang, istilah Komsos mungkin terasa masih asing. Bahkan ketika disebutkan bahwa Komsos itu singkatan dari Komunikasi Sosial, istilah ini pun masih terasa asing. Apa itu Komunikasi Sosial? Karena ada kata “sosial”-nya, sebagian orang mungkin berpikir ini adalah karya sosial Gereja, seperti kata sosial di Kementerian Sosial. Padahal karya sosial Gereja itu dikoordinasikan oleh Seksi Pengembangan Sosial Ekonomi, atau sering disingkat PSE. Lantas, apa itu Komunikasi Sosial?

Komunikasi Sosial atau Komsos adalah salah satu karya pewartaan Gereja Katolik, yang secara khusus dilakukan melalui media komunikasi sosial. Sebelum era internet, media komunikasi sosial itu berupa koran dan majalah, radio dan televisi. Memasuki era intenet, media komunikasi sosial pun turut berkembang sejalan. Muncullah yang namanya Facebook, Twitter, Instagram, Whatsapp, Line, dan lain sebagainya. Kini, media sosial (atau medsos) menjadi bagian dari kehidupan orang banyak. Bila dulu orang menulis sebuah opini di koran atau majalah itu harus melalui seleksi ketat tim redaksi, kini orang dengan mudahnya menulis opini pribadi melalui blog dan menyebarkannya. Bila dulu orang merasa bangga bisa masuk televisi (bahkan sampai sekarang pun, masih tidak mudah untuk tampil masuk televisi), namun, berkat era internet, kini setiap orang bisa dengan mudahnya meng-upload sendiri video blog-nya.

Lalu, apa saja karya Komsos di Paroki Alam Sutera ini? Salah satunya adalah majalah Salus. Karya yang lain adalah warta paroki mingguan: Warta Salus. Selain itu, Seksi Komsos juga me-maintain website paroki www.santo-laurensius.org dan akun-akun media sosial, seperti Facebook @GerejaSantoLaurensius dan Instagram @santolaurensius. Sesuai dengan penjelasan di awal tulisan ini, inilah karya utama dari Seksi Komsos yaitu melakukan pewartaan Kabar Gembira (kerygma) melalui media massa, baik media massa tradisional (majalah dan warta) maupun media massa modern (website dan media sosial internet).

Komsos Bukan (Sekedar) Tukang Foto!

Nah, karena Komsos berkecimpung di dunia jurnalistik, maka tak heran bila banyak aktivis Komsos yang berlatarbelakangkan penulis, jurnalis dan fotografer – walau tidak selalu dan tidak harus. Di banyak paroki, termasuk Paroki Alam Sutera, komunitas para fotografer yang mau melayani di Gereja juga berada di bawah koordinasi Seksi Komsos Paroki. Maka, tak heran pula, bila dalam sebuah kepanitiaan, tugas dokumentasi sering kali dipercayakan kepada orang-orang Komsos. Dalam banyak kepanitiaan kegiatan besar di Gereja, seperti Natal dan Paskah, walaupun sudah ada Seksi Dokumentasi dalam kepanitiaannya, namun Komsos masih selalu diminta membantu untuk dokumentasi.

Lantas, apakah boleh bila dalam sebuah kegiatan skala kecil, seperti seminar sehari contohnya, pihak panitia meminta bantuan kepada Komsos untuk dokumentasi (foto)? Jawabnya, tentu saja boleh. Apalagi bila dalam kepanitiaan tersebut tidak ada orang yang terbiasa melakukan dokumentasi, karena mengambil foto menggunakan smartphone dirasa kurang pas karena kualitasnya kurang bagus (padahal belum tentu juga). Namun, perlu diingat kembali bahwa tugas Komsos adalah melakukan pewartaan Kabar Gembira, bukan sekedar mengambil foto untuk dokumentasi. Foto-foto tersebut bukan lalu hanya disimpan saja sebagai dokumentasi, namun perlu dibagikan dan disebarkan sebagai sebuah pewartaan. Komsos bukan sekedar menjadi tukang foto, namun menjadi “jurnalis”, mengemban tugas untuk menggunakan foto-foto tersebut menjadi materi pewartaan Kabar Gembira. Inilah reksa pastoral dari Seksi Komsos.

Komsos dan Perkembangan Dunia Digital

Tak bisa dipungkiri bahwa kini dunia digital telah menjadi bagian dari hidup keseharian. Di perkotaan besar, orang nyaris tidak bisa lepas dari smartphone. Smartphone bukan lagi sekedar sebagai alat komunikasi, namun juga telah menjadi alat yang membantu dalam berbagai segi kehidupan sehari-hari. Smartphone dapat menjadi “kendaraan” transportasi kita, melalui aplikasi ojek online. Smartphone juga mulai menggantikan “dompet” kita, bahkan untuk berbelanja di pasar tradisional sekalipun. Banyak keluarga sekarang sudah tidak lagi berlangganan koran, karena berita terkini bisa didapat melalui smartphone.

Dunia digital juga telah merubah cara kita berkehidupan sosial. Orang sekarang cenderung lebih mudah membuka ruang-ruang pribadinya kepada publik. Mulai dari makan apa hari ini, di mana, dengan siapa; sedang berlibur di mana, bertemu siapa; anak lulus/wisuda; dan lain sebagainya. Perubahan perilaku kehidupan sosial ini tentu juga lalu menular kepada lembaga atau komunitas, termasuk Gereja. Gereja pun perlu hadir dan eksis di dalam dunia digital. Bahkan, Gereja dituntut untuk juga mewartakan Kabar Gembira ke dalam dunia baru, dunia digital ini.

Berhubung beberapa komunitas Gereja pun sudah masuk dan melakukan pewartaan ke dalam dunia digital, seperti komunitas Emmaus Journey Paroki Alam Sutera yang hadir di Instagram dengan akun @ejsantolaurensius, akun @omkstlaurensius milik OMK (Orang Muda Katolik) Paroki Alam Sutera. Dan beberapa Wilayah dan Lingkungan juga hadir dalam bentuk fanpage-nya Facebook.

Lantas, apa peran dan fungsi Seksi Komsos? Inilah yang menjadi tantangan Seksi Komsos berikutnya! Bahwa Seksi Komsos bukan lagi menjadi PELAKU pewartaan di media sosial semata, namun berubah peran menjadi PEMBERDAYA. Tugas Seksi Komsos berikutnya adalah memberdayakan kelompok atau komunitas untuk hadir dan bersuara (eksis) di dunia digital. Bentuknya macam-macam, seperti pelatihan membuka akun di beberapa aplikasi media sosial, pembuatan fanpage di Facebook, pelatihan dan membuat video pendek untuk di-posting di Instagram atau Youtube, dan lain sebagainya. Inilah tugas Seksi Komsos berikutnya, yaitu membangun kesadaran umat untuk ikut mengambil bagian dalam evangelisasi dan pewartaan Gereja melalui media sosial yang dimilikinya (Pedoman Dasar Pelayanan Pastoral-Evangelisasi Komisi, Bab III, Pasal 6, Butir 4.4).

Contact: