Tiga Gereja dan Santo Laurensius

TAK lama setelah menerima Sakramen Baptis, aku berangkat ke Bandung untuk kuliah. Aku memilih kos dekat kampus sehingga cukup berjalan kaki untuk kuliah. Jadilah aku masuk dalam Paroki Sukajadi, Gereja Santo Laurentius, Bandung. Waktu itu, empat puluh tahun lalu, gereja ini masih relatif baru. Desainnya pun modern dan megah.


Inilah pertama kali, aku mengenal Santo Laurentius, namun baru sekadar nama. Belum tergerak untuk mencari tahu kisah hidup orang kudus ini.

Santo Laurentius

Puluhan tahun berlalu, saat berlibur ke Roma, tak sengaja aku melewati sebuah gereja bernama Basilica di San Lorenzo fouri le Mura (Basilika St. Laurensius di Luar Tembok). Jangan bandingkan basilika ini dengan Basilika St. Petrus (Vatikan), karena basilika ini tidak besar. Tidak jelas mengapa ada embel-embel “di Luar Tembok”, aku menduga mungkin karena di balik tembok tinggi yang mengelilingi sisi kiri, kanan, dan belakang gereja, adalah pemakaman kuno. Sebagai area di luar tembok area pemakaman. Basilika ini termasuk berada di pusat Kota Roma, karena hanya berjarak 3,5 km dari Colloseo atau 1,5 km dari Termini, stasiun kereta.


Di depan gereja ada sebuah monumen dengan prasasti bertuliskan IN HONOREM LAVRENTII MARTYRIS EREXIT PIVS IX PONT MAX PONTIFICATVS A XIX. Kurang lebih berarti Dipersembahkan untuk Laurentius Martir, dan Paus Pius IX Kepausan Abad 19. Rupanya di gereja inilah St. Laurentius dimakamkan. Lalu pada abad 19, Paus Pius IX wafat dan ikut dimakamkan di sini.


Saat itu pun aku masih belum tertarik mencari tahu siapakah santo ini.


Sekitar tiga tahun lalu, aku menjadi warga Paroki Alam Sutera, Tangerang. Gerejanya bernama Gereja Santo Laurensius. Usia bangunan gereja ini baru 10 tahun, desainnya klasik. Bagian interior sepintas mirip Katedral Jakarta.

Gereja St. Laurensius, Alam Sutera, Tangerang, Keuskupan Agung Jakarta (Foto: Fidensius Gunawan)

Nah di plaza depan gereja, ada sebuah patung yang besar, berwarna putih. Ini adalah patung santo pelindung gereja, Santo Laurensius. Tangan kiri terlipat sambil memegang sebuah kotak sedangkan tangan kanan memegang rangka daun jendela. Jujur aku bertanya-tanya, kenapa koq membawa-bawa daun jendela.


Saat itulah muncul rasa ingin tahu, maka aku mulai menggali dari beberapa sumber.


Santo Laurentius lahir pada tahun 225 di Via Tiburtino, kota Roma (jalan ini masih ada sampai sekarang, jalan menuju basilika). Berasal dari keluarga bangsawan kaya, namun keluarga ini belum mengenal Kristus. Baru saat remaja, Laurentius tertarik akan ajaran Yesus. Ia rajin ke gereja mendengarkan kotbah dan pengajaran, sehingga akhirnya ia dibaptis. Laurentius dikenal amat saleh dan besar perhatiannya pada orang-orang miskin. Ia gigih mengajar dan menyebarkan agama. Paus Sixtus II (257-258) mengamati segala keutamaan Laurensius, lalu mengangkatnya menjadi salah satu dari tujuh diakon agung yang membantu tugas-tugas Sri Paus. Khusus kepada Laurentius, Sri Paus mempercayakan pengelolaan harta gereja termasuk tugas untuk membagikannya kepada para fakir miskin di seantero kota Roma.

Patung Santo Laurensius di Gereja Santo Laurensius, Alam Sutera, Tangerang, Keuskupan Agung Jakarta (Foto: Fidensius Gunawan)

Saat itu Romawi dipimpin oleh Raja Valerianus (253-260). Raja ini sangat kejam dan menginginkan semua warga menyembah dewa-dewa bangsa Romawi. Raja banyak menangkap, menyiksa, bahkan membunuh pengikut Kristus yang tidak mau berbalik menyembah dewa-dewa. Raja sangat marah kepada Laurentius, karena banyak kaum tersisih dan orang miskin yang memutuskan masuk Gereja karena mengalami budi halus dan ketulusan kasih Laurentius.

Kondisi ini membuat kegiatan menggereja dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Suatu hari, tepatnya tanggal 6 Agustus 258, ketika Paus Sixtus II sedang mempersembahkan Misa di dalam tempat persembunyian, tiba-tiba katakombe diserbu para prajurit Raja. Paus ditangkap dan akan dihukum mati. Karena kesetiaannya Laurentius mengajukan diri untuk mati bersamanya. Paus mencegah dan meyakinkan Laurentius bahwa belum saatnya ia menjadi martir.

Laurentius lalu dihadapkan kepada walikota Roma, ia dibujuk untuk menyangkal Kristus dan menyerahkan seluruh harta gereja dengan imbalan kebebasan. Laurensius minta waktu tiga hari untuk mengumpulkan harta gereja, tentu saja ini membuat walikota senang.


Bergegas Laurensius mengumpulkan segala harta yang dimiliki gereja dan membawanya. Namun alih-alih menyerahkan kepada pemerintah Romawi, ia pergi ke segala pelosok Roma guna membagikan harta kepada orang-orang miskin hingga tak bersisa. Ia hanya minta tolong kepada mereka agar bersedia berkumpul di depan Colloseo pada hari ketiga sesuai janjinya kepada walikota.


Tepat tanggal 10 Agustus 258, Laurentius datang ke Colloseo tempat di mana pengadilan kota diadakan. Ia disambut oleh walikota yang langsung menanyakan di mana harta gereja yang dijanjikan. “Semua sudah kubawa. Mari kita keluar untuk melihatnya” jawab Laurentius. Di halaman luar Colloseo, Laurentius memperlihatkan kerumunan begitu banyak orang-orang miskin dan tersisih sambil berkata: “Ambillah orang-orang miskin dan sengsara ini. Inilah harta kekayaan Gereja. Peliharalah dan serahkanlah kepada Kaisar”


Wali Kota sangat marah lalu memerintahkan para prajurit menangkap dan memanggang Laurentius. Segera Laurensius ditangkap dan diikat pada sebuah grid (alat pemanggang). Kayu-kayu bakar disiapkan dan mulai dinyalakan. Laurentius tidak gentar, ia bahkan tersenyum sambil terus berdoa mohon kekuatan. Konon saat Luarensius wafat, tercium bau harum yang sangat kuat dan dapat dirasakan oleh semua yang hadir. Membuat semua orang yang hadir kagum. Tak sedikit dari mereka kemudian bertobat dan menjadi pengikut Kristus.


Sampai di sini, aku tertawa dalam hati, karena aku telah salah mengira grid sebagai daun jendela.


Mayat yang telah hangus ini dimakamkan di kampus Verano, Via Tiburtino. Kemudian pada awal abad keempat Raja Konstantinus Agung mendirikan sebuah gereja yang megah di atas makam sebagai penghargaan bagi kesetiaan iman Diakon Laurentius.


Untuk mengenang dan menghormati Santo Laurentius, Gereja menetapkan tanggal 10 Agustus sebagai hari pesta. Laurentius adalah teladan sempurna sebagai seorang yang sungguh mencintai sesama dan seorang teguh setia pada Kristus.


Jiwaku melekat pada-Mu ya Tuhan, tubuhku dipanggang demi nama-Mu.



Penulis dan Foto oleh Fidensius Gunawan

Artikel telah ditayangkan di www.hidupkatolik.com - 8 Agustus 2022

Gereja Santo Laurensius, Alam Sutera, Tangerang, Keuskupan Agung Jakarta (Foto: Fidensius Gunawan)

44 views

Recent Posts

See All