Masih Mau Misa Online?

HARI masih pagi, cuaca cerah. Halaman parkir Sekolah Laurensia masih lengang. Setelah parkir mobil, aku berjalan masuk halaman Gereja St. Laurensius, yang letaknya tepat bersebelahan dengan sekolah. Tak lama kemudian, aku sudah masuk dalam aula gereja. Kursi-kursi masih kosong, namun panitia nan sigap dan ramah, sudah siap menyambut tamu. Sepertinya aku datang terlalu pagi.

Pagi itu, Sabtu, 2 Juli 2022, ada hajatan di aula gereja, berupa seminar rohani. Gegara pandemi covid, selama dua tahun lebih semua acara gereja dilakukan secara online. Maka seminar ini, yang digagas oleh Lingkungan Sta. Teresa Calcuta dan menggandeng PPG St. Maria Benteng Gading adalah acara tatap muka pertama di paroki kami yang melibatkan ratusan orang. Tepatnya ada 520 tiket seminar yang terjual. Respons umat yang di luar dugaan sekaligus karya Tuhan yang luar biasa, mengingat awalnya panitia hanya mencetak 300 tiket.


Acara seminar ini merupakan salah satu upaya PPG menghimpun dana dari umat untuk pembangunan gereja baru di Gading Serpong, sebagai pengembangan Paroki Alam Sutera. Kebutuhan dana masih sangat besar. Maka paralel dengan progress proyek pembangunan, PPG terus mengupayakan penggalangan dana, sehingga diharapkan bangunan gereja dapat selesai tahun depan.

Romo Hadi memberikan kata sambutan

Seminar ini bertajuk “Keluarga yang Tumbuh dalam Perayaan Ekaristi dan Peduli untuk Membangun Gereja Allah”. Idenya berawal dari keprihatinan Gereja, kala Misa-misa telah kembali dibuka tanpa pembatasan, ternyata belum seluruh umat tergerak untuk ikut Misa di gereja. Masih cukup banyak umat yang kebablasan merasa nyaman dengan Misa online. Harus diakui Misa online memang sangat nyaman. Hemat waktu, cukup 1-2 menit sebelum jam Misa untuk duduk manis di depan TV atau gawai. Hemat biaya, karena tidak perlu bayar parkir dan bensin. Tak perlu dandan bahkan masih mengenakan rol rambut pun bisa Misa online. Wajar bila berat untuk move on.


Pembicara tunggal dalam seminar ini adalah Romo Eko Wahyu, OSC. Romo Eko, panggilan akrabnya, berkarya di Gereja St. Helena, Paroki Curug, masih tetangga Paroki Alam Sutera. Ia dikenal piawai dalam mengajar, bukan hanya karena pengetahuannya yang luas, tapi lebih karena cara ia mengajar. Suaranya sangat khas, lantang dan sangat sering diselingi tawa menggelegar. Ini membuat semua yang mengikuti acaranya ikut tertawa terbahak-bahak, tak jarang sampai sakit perut. Ia juga aktif memainkan mimik wajah dan gerak tubuh, serta berjalan di antara peserta seminar, sehingga suasana selalu hidup.

Dalam seminar kali ini, Romo Eko menjelaskan dengan gamblang mengapa perlu hadir dalam Misa di gereja alih-alih terus mengikuti misa online. Aku mencatat beberapa hal:

  1. Liturgi Ekaristi merupakan perjamuan kudus selayaknya perjamuan kelak di Surga. Tuhan Yesus sendiri hadir dan mengundang kita. Tuhan ingin dekat dengan kita, maka selayaknya kita hadir memenuhi undangan-Nya. Romo Eko menggambarkan Misa online setara hubungan LDR, tidak ada kedekatan yang nyata.

  2. Bila pada Liturgi Ekaristi kita menyantap Tubuh Kristus, maka pada Liturgi Sabda kita “menyantap” Firman. Keduanya saling melengkapi. Jadi tidak layak bila kita beranggapan yang penting terima komuni. Upacara yang lain dianggap tidak penting, sehingga tidak apa-apa datang terlambat dan pulang duluan.

  3. Dalam perjalanan hidup, manusia bisa saja mengalami desolasi, momen merasa jauh dari Tuhan. Justru inilah saat memaksakan diri rajin hadir dalam misa. Mendekatkan diri kepada-Nya. Biarkan Tuhan sendiri secara perlahan tapi pasti mengubah diri kita, sehingga kita bisa berbalik mengalami konsolasi.

  4. Hakikat suatu perjamuan alias makan-makan bersama adalah sukacita, maka bila kita tidak merasakan sukacita selepas mengikuti misa, berarti ada yang salah dengan diri kita. Wajar saja bila kita sedang memiliki masalah, entah sedang sedih, kecewa, marah. Maka yang perlu kita lakukan adalah ketika misa saat persembahan, sembahkanlah segala masalah tersebut kepada Tuhan. Biarkan Tuhan mengambil semuanya dan mengganti dengan berkat sukacita. Selama manusia merasa “nyaman” menggenggam erat masalahnya, maka sulit bagi Tuhan untuk menggantikannya dengan berkat sukacita. Romo Eko menjelaskan hal ini dengan kisah, pernah ada yang menawarkan minuman teh Cina yang terkenal nikmat. Sedangkan dalam gelas di tangannya masih tersisa kopi pahit. Maka agar dapat menikmati teh tersebut, sisa kopi jelas harus dibuang terlebih dulu sampai bersih, baru diisi dengan teh.

  5. Sebelum misa, baik bila kita mempersiapkan diri. Di rumah, selain berdoa dan puasa satu jam sebelum terima komuni, kita dapat membaca dari buku Ruah atau Ziarah Batin, semua Bacaan dan Mazmur hari itu. Sehingga saat misa, kita hanya mendengarkan bacaan. Tidak tepat bila sambil membaca.

Romo Eko Wahyu, OSC.

Sebagai pamungkas, menjelang akhir seminar, Romo Eko mengajak peserta menyanyikan lagu Komuni Batin. Pada bagian karena sekarang aku tak dapat menyambut-Mu dalam Sakramen Ekaristi, Romo mengulang-ulang. Kemudian Romo menekankan bahwa saat ini, gereja-gereja sudah kembali dibuka, sehingga kondisi tak dapat menjadi tidak sah lagi. Dengan jenaka, Romo melanjutkan menyanyi datanglah sekurang-kurangnya seminggu sekali ke dalam misa-Ku.

Jadi, masihkah kita pilih Misa secara online?



Tulisan ini telah dimuat di hidupkatolik.com

Foto-foto merupakan hasil karya Bpk. Handy Surya Wirawan.




64 views

Recent Posts

See All