Santo Laurensius

Alam Sutera

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Diutus Kedalam Dunia

Ada dua orang laki-laki berjalan di sebuah lembah, dan sa­lah satu dari mereka menunjuk ke sisi gunung dan me­ngatakan, “Lihatlah pertapaan itu. Di sana hidup seorang laki-laki yang sudah lama meninggalkan kehidup­an dunia. Ia hanya mencari Tuhan, dan tak memikirkan urusan dunianya.” Laki-laki kawannya mengatakan, “Ia tak akan menemukan Tuhan sampai ia meninggal­kan pertapaannya, dan kembali ke dunia kita, berbagi kebahagiaan dan penderitaan dengan kita, menari ber­sama kita saat pesta pernikahan dan menangis bersa­ma kita di upacara kematian”.

Kita tentu sangat kagum kepada orang-orang yang sanggup mempraktekkan cara hidup sangat ekstrim, hidup bertapa, menjauhkan diri dari berbagai kesibukan dunia ini, karena dirasa semakin menjauhkan mereka dari Tuhan. Mereka lebih banyak memberi waktu untuk membina kedekatan dengan Tuhan melalui hidup doa, kontemplasi, mati raga, bahkan tidak jarang dengan sengaja menyiksa fisik mereka, mematikan segala keinginan daging, dan lebih mengaktifkan keinginan roh, untuk bersatu mesra dengan Tuhan, berbaur dengan yang Ilahi dalam kesendirian.

Namun dalam Injil hari ini kita dengar bahwa panggilan untuk mengikuti Yesus adalah panggilan untuk diutus. Kata Yesus kepada Bapa-Nya, “Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia”. Dan di bagian lain kita mendengar pengutusan Yesus itu, “Pergilah, jadikanlah semua bangsa menjadi muridKu”. Menjadi utusan adalah suatu panggilan Tuhan kepada kita semua, untuk diutus ke dalam dunia, dan bukan menjauhkan kita dari dunia. Isi dari pengutusan itu adalah mewartakan kasih Tuhan, kasih yang tulus dan ditujukan kepada semua orang. Dengan mengalami kasih Tuhan, orang-orang akan semakin mengenal Tuhan dan tertarik pada-Nya, dan akhirnya menjadi pengikut-Nya, menjadi murid-Nya. Dan aspek sangat mendasar dalam pelaksanaan perutusan mewartakan kasih Tuhan kepada sesama adalah pelayanan.

Panggilan Tuhan kepada kita terjadi dalam dan melalui komunitas umat beriman. Dalam kebersamaan atau komunitas inilah kita merasakan panggilan itu. Dimensi komunal pangilan berarti bahwa pangilan itu didengarkan di dalam Gereja, didukung oleh Gereja, dan diarahkan untuk melayani misi Gereja. Maka untuk itu, ketertarikan seseorang untuk melayani (dalam berbagai bentuk dan cara) dan kemampuan untuk melayani harus diakui dan diteguhkan oleh Gereja, sebagai kegiatan resmi Gereja dan untuk misi Gereja. Hal ini secara resmi terjadi pada para imam dan diakon melalui pentahbisan, dan ini terjadi secara tidak resmi bagi pelayan-pelayan lain di dalam Gereja, melalui jalur-jalur tertentu, seperti: pelantikan, pengangkatan, pemberian mandat, atau pengutusan secara umum ketika kita menerima Sakramen Permandian, diteguhkan dalam Sakramen Krisma, dan dikuatkan terus setiap kali mengikuti Sakramen Ekaristi.

Tujuan pelayanan kita adalah memajukan misi Gereja membawa sertiap orang ke dalam persekutuan penuh dengan Tuhan. Penting keberadaan kita sebagai kehadiran simbolis Tuhan mendesak kita untuk juga mampu membawakan diri dengan baik, karena pengalaman orang akan diri kita sungguh dikaitkan dengan pengalaman mereka akan Tuhan. Dan untuk menjadi kudus dihadapan Tuhan, kita tidak perlu menjauhi dunia ini. Kita dipanggil justru untuk diutus ke dalam dunia, di tengah-tengah pergaulan hidup sosial kebersamaan. Di dalam dunia, dengan segala persoalannya, disitulah kita diutus, untuk melayani dengan tulus, memberi kesaksian tentang kasih Tuhan kepada manusia. Pun dalam perjuangan hidup kita sehari-hari, mencari nafkah, mempersiapkan masa depan yang lebih baik, memberikan kontribusi positip dalam kehidupan bersama, yang sering disertai pengorbanan, disanalah kita bisa menghayati perutusan dan sekaligus kedekatan dengan Tuhan (aag).

Last Updated on Friday, 18 May 2012 09:38
 

Surat Keluarga Mei 2012

Masa lalu adalah jejak untuk hari ini
Hari ini adalah rangkaian cerita  hari kemarin
Dan masa depan kita adalah panenan
Dari kebijaksanaan kita saat ini


Keluarga-keluarga yang terkasih,

Melihat perubahan masa sekarang ini, kadang hati kita bisa menjadi gamang dan kuatir. Perubahan zaman membawa kemudahan dan gengsi; perubahan itu membawa semangat berkompetisi dan semangat untuk menang. Semua orang diajak untuk berlomba-lomba memenangkan hidup yang makmur, peringkat pertama, atau terkenal. Perubahan  itu entah membawa kita ke mana. Kadang kita merasa menikmatinya, kadang bingung mengamati akibatnya bagi generasi muda dan keluarga  kita.

Last Updated on Friday, 18 May 2012 09:32 Read more...
 
Banner

Calendar

May 2012
S M T W T F S
29 30 1 2 3 4 5
6 7 8 9 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31 1 2

Telah terbit, Salus Edisi No.9 bulan Maret 2012. Para ketua lingkungan dipersilahkan untuk mengambilnya di Sekretariat.

 

Who's Online

We have 37 guests online