Sejarah Paroki

 

SEJARAH PAROKI ALAM SUTERA, SERPONG UTARA
Gereja Santo Laurensius
Sebagai Paroki ke-62 di Keuskupan Agung Jakarta

Pada awalnya adalah sebuah mimpi.  Mimpi yang kemudian dirajut menjadi sebuah harapan.  Dengan sebuah usaha, kerja keras, keringat dan air mata, maka harapan itu menjadi sebuah kenyataan.

Demikian pula yang terjadi pada kelompok-kelompok umat yang tinggal di perumahan Gading Serpong, Alam Sutera, dan yang tinggal di kawasan hunian sekitarnya.  Memerlukan waktu dan jarak tempuh lebih dari 10 Km untuk sampai dan beribadah di Gereja Santa Monika, BSD City.  Beberapa wacana muncul untuk membeli sebidang tanah di Gading Serpong, namun belum berwujud.  Hingga tiba saatnya di awal tahun 2004, salah satu keluarga Katolik bersama pengembang PT Alfa Goldland Realty di Alam Sutera berbincang dengan Pastor Paroki di Santa Monika, Serpong.  Kerinduan akan adanya sebuah Gereja akan segera diwujudkan melalui pemanfaatan lahan di perumahan Alam Sutera, yang letaknya tepat di samping kompleks Sekolah Santa Laurensia

Pastor beserta Dewan Paroki Santa Monika menyambut niat baik tersebut dengan membentuk Panitia Pembangunan Gereja pada 19 Maret 2004.  Sebulan kemudian, 20 April 2004, Bp. Ign. Haryanto Tirtohadiguno sebagai Ketua Umum dilantik beserta segenap jajaran Panitia Pembangunan Gereja (PPG) Santo Laurensius.  Nama Pelindung Santo Laurensius dipilih semata-mata tanpa maksud mendekatkan diri dengan Sekolah Santa Laurensia yang menghormati nama pelindungnya Santo Laurensius dari Brindisi.  Santo Laurensius yang dipilih untuk Pelindung PPG adalah seorang martir, yang diperingati setiap 10 Agustus.  Misa Pelantikan dipersembahkan oleh Pastor Paroki Santa Monika Serpong, RP Y.D. Widyasuharjo, OSC.

Proses legalisasi PPG semakin diperkuat dengan terbitnya Keputusan Uskup Agung Jakarta, Mgr. Julius Kardinal Darmaatmadja, SJ., dalam Pembentukan Pengurus Gereja dan Dana Papa Roma Katolik (PGDP) Gereja Santo Laurensius, pada 4 Mei 2004.  Ketua PGDP Santo Laurensius dijabat secara ex officio oleh Pastor Kepala Paroki Santa Monika, Serpong. Selanjutnya badan hukum PGDP itu pun dikukuhkan dengan Akta Notaris No.8 oleh Notaris Nanny Sri Wardani pada 21 Mei 2004.  Sementara itu desain dan gambar teknis gereja disetujui oleh Pastor Stefanus Roy Djakarya, Pr., Biro Hukum dan Pertanahan Keuskupan Agung Jakarta, pada 9 September 2004.

Syukur kepada Tuhan.  Di tengah maraknya berita tentang sulitnya memperoleh izin membangun Gereja di kawasan Provinsi Banten, namun justru pada 6 Mei 2005, Bupati Kepala daerah Tingkat II Tangerang, Drs. H. Ismet Iskandar, berkenan menerbitkan Izin Pendirian Bangunan Gereja Katolik yang dituangkan dalam Surat Keputusan Bupati Tangerang nomor 593/Kep.143-Huk/2005.  Dinas Bangunan dan Pemukiman Kabupaten Tangerang atas nama Bupati segera menindaklanjuti dengan mengeluarkan surat Izin Mendirikan Bangunan dengan no surat 645.8/787-DBP/2005, pada 31 Mei 2005.

Dengan memegang izin dari pihak Gereja maupun Sipil, maka PPG memohon ke Paroki Santa Monika agar dapat diperkenankan menyelenggarakan perayaan ekaristi mingguan di lokasi yang berdekatan dengan tanah yang akan dibangun gereja di atasnya.  Dewan Paroki mendukung usulan tersebut, dan menunjuk Bp. Danurdoro Susetio atau yang biasa dipanggil Pak Wawan untuk membentuk Tim Liturgi yang bertugas mempersiapkan Peletakan Batu Pertama dan menangani penyelenggaraan Perayaan Ekaristi mingguan.  Pastor Antonius Suprapto, SSCC pun menerima perutusan untuk mendampingi reksa pastoral tim liturgi tersebut disamping juga mendampingi PPG.  Akhirnya dengan diiringi doa triduum memohon tuntunan Roh Kudus pada 3 hari sebelumnya, maka Ibadat Pemberkatan Tiang Pancang dan Peletakan Batu Pertama berhasil dlaksanakan pada 10 September 2005.  Ibadat dipimpin RD Stefanus Roy Djakarya bersama RP Y.D. Widyasuharjo, OSC., dan Pastor Antonius Suprapto, SSCC.  Selanjutnya pada 27 November 2005, Perayaan Ekaristi perdana berhasil terlaksana di Gymnasium Sekolah Santa Laurensia, sebagai Misa ke-7 dari Paroki Santa Monika, Serpong.

Pembangunan mulai dilakukan, setahap demi setahap, perlahan namun pasti.  Mulai dari pembangunan struktur, sampai dengan akhirnya topping off pada 22 Juli 2007.  Penggalangan dana juga terus dilakukan oleh PPG dan tim kerjanya tanpa mengenal lelah.  Pastor pendamping pun silih berganti, mulai dari RP Antonius Suprapto, SSCC., kemudian RP Serafin Danny Sanusi, OSC., hingga RP Donatus Manalu, OSC. Memasuki tahun 2007, perkembangan jumlah umat semakin meningkat, sehingga membutuhkan pelayanan yang lebih baik, tidak hanya untuk bidang peribadatan saja.  Maka Dewan paroki Santa Monika pun atas izin Bapa Uskup berkenan membentuk kepengurusan Dewan Stasi, yang dilantik pada 18 Februari 2007.  Dewan Stasi Santo Laurensius yang diketuai oleh RP Donatus Manalu, OSC ini dilantik oleh RP Y.D. Widyasuharjo, OSC.  Pastor Paroki Santa Monika Serpong.

Satu bulan setelahnya, yaitu 18 Maret 2007, dilantiklah pengurus Dewan Stasi Pleno yang terdiri dari para Ketua Lingkungan dan Wilayah, serta para Ketua Seksi.  Pada saat pembentukan PPG di tahun 2004, wilayah yang menjadi area pelayanan umatnya mencakup 4 Wilayah, yaitu Wilayah 7A dan 7B di kawasan Alam Sutera dan sekitarnya, serta Wilayah 8 dan 9 di kawasan Gading Serpong dan sekitarnya.  Pada saat Dewan Stasi dilantik, maka Wilayah itu telah dimekarkan serta namanya disesuaikan menjadi 7 Wilayah, yang disebut Wilayah Laurensius 1 sampai dengan 7.

Kebutuhan umat yang memerlukan layanan sakramen juga semakin meningkat, sehingga pada 1 September 2007, diberkatilah untuk pertama kalinya 2 pasang mempelai dalam saling menerimakan Sakramen Perkawinan di Gereja Santo Laurensius.  Pada hari yang sama juga telah dilakukan Pembaptisan pada 33 orang bayi.  Disusul 41 orang dewasa yang menerima Pembaptisan pada 23 Desember 2007. Dengan demikian Paroki Santa Monika sangat terbantu dengan inisiatif layanan ini. Layanan-layanan yang lainnya perlahan-lahan mulai diselenggarakan secara mandiri meskipun tetap berada di bawah koordinasi Paroki Santa Monika.

Pada malam Natal, 24 Desember 2008, untuk pertama kalinya gedung Gereja Santo Laurensius itu digunakan untuk Perayaan Ekaristi.  Namun mengingat pembangunan belum sepenuhnya selesai maka Perayaan Ekaristi mingguan kembali dilaksanakan di gedung serba guna untuk memberi kesempatan PPG menyelesaikan pembangunan.  Gedung Gereja untuk seterusnya mulai digunakan untuk Perayaan Ekaristi pada saat Pekan Suci di tahun 2009.  Akhirnya, pada 21 Mei 2009, Gedung Gereja Santo Laurensius diresmikan oleh Uskup Agung Jakarta, Mgr. Julius Kadinal Darmaatmadja, SJ.

Memasuki tahun 2010, umat semakin bergiat dalam kehidupan menggereja.  Bertumbuh dalam iman serta mengembangkan semangat pelayanan seperti yang diteladankan Santo Laurensius.  Pertumbuhan jumlah umat yang berdatangan dan berdomisili di kawasan Serpong dan sekitarnya, membuat Lingkungan dan Wilayah pun ikut semakin bertambah banyak.  Kegiatan-kegiatan seksi dan kelompok kategorial juga semakin berkualitas.  Para imam, pengurus Dewan Stasi dan umat kemudian memberanikan diri untuk mengusulkan kepada Keuskupan Agung Jakarta agar berkenan meningkatkan status menjadi Paroki.  Di lain pihak, dalam rangka memaksimalkan pelayanan, Ordo Salib Suci (OSC), tarekat para imam yang melayani di Paroki Santa Monika dan Stasi Santo Laurensius, bermaksud menyerahkan sepenuhnya penggembalaan umat beriman di Stasi kelak bilamana di kemudian hari menjadi paroki kepada Keuskupan Agung Jakarta, melalui para imamnya.  Namun demikian, jumlah imam yang ditahbiskan tidak sebanding dengan jumlah paroki yang membutuhkan.  Syukur kepada Tuhan, bahwa ada 2 keluarga yang pada pertengahan 2010 telah menyerahkan putra nya untuk dididik menjadi calon imam di Seminari Menengah Wacana Bhakti.

Sambil mempersiapkan diri untuk menjadi sebuah paroki mandiri, Dewan Stasi beserta umat bersama-sama melengkapi bangunan dan infrastruktur pendukung dalam kompleks gereja.  Hal ini terlihat dari begitu padatnya kegiatan di stasi setiap minggu dan bahkan setiap hari.  Tidak jarang Pastor beserta pengurus Dewan Stasi mengadakan rapat resmi di bawah pohon atau tenda kecil, karena semua ruangan telah habis digunakan untuk aneka kegiatan umat.  Pada akhir 2010 mulai dibangun gedung Pastoran yang merupakan sumbangan salah satu umat beriman, yang sudah siap di gunakan sejak pertengahan 2011.   Pada 2 Juli 2011, dilaksanakan pemberkatan tiang pancang sebagai awal pembangunan Gedung Karya Pastoral yang panitianya diketuai oleh Bp. Tommy Budiyanto.  Disusul pada 14 Agustus 2011, diadakan pemberkatan Gua Maria Penuh Rahmat yang letaknya juga di dalam kompleks gereja Santo Laurensius.  Sebuah gua sederhana yang memvisualisasikan patung Bunda Maria berbusana kecoklatan dalam adegan khas memberi berkat ini, konon telah mengundang banyak umat dari luar paroki berdoa bersama di sana.

Di tengah maraknya kegiatan umat stasi yang salah satunya diwarnai oleh semangat membangun sebuah paroki mandiri, sebagian umat yang berdomisili di kawasan perumahan Gading Serpong, sejak pertengahan 2010 memulai kembali perjalanan panjang impian membangun sebuah gereja di sana.  Impian itu pada dasarnya sudah ada jauh sebelum dimulainya pembangunan Gereja Santo Laurensius.  Beberapa kali impian itu telah diupayakan untuk diwujudkan dalam bentuk rapat informal di antara umat serta pendekatan pada pemilik tanah maupun pengembang di Gading Serpong, dengan tujuan memperoleh sebidang tanah untuk pembangunan gereja.  Namun begitu banyak tantangan yang harus dhadapi sehingga barulah pada pertengahan tahun 2011, RP Aloysius Supandoyo, OSC., bersama Dewan Paroki Santa Monika membentuk Tim Persiapan Pembangunan Gedung Gereja Gading Serpong yang diketuai oleh Bp. Lukas Agung Prasojo.  Tim ini bekerja di bawah tanggung jawab Dewan Paroki Santa Monika, yang bertugas melakukan persiapan seperlunya dalam mengadakan pembelian tanah di kawasan Gading Serpong.  Pada akhir Oktober 2011, Tim ini dinyatakan selesai masa tugasnya dan memperoleh rekomendasi untuk melanjutkan upaya pengadaan tanah tersebut d bawah pembinaan bersama antara Paroki Santa Monika dan Stasi Santo Laurensius bilamana kelak statusnya telah ditingkatkan menjadi Paroki mandiri.

Melihat situasi yang ada mengenai minimnya imam di Keuskupan Agung Jakarta, maka Pimpinan Ordo Salib Suci Provinsi Sang Kristus Indonesia yang berkedudukan di Bandung akhirnya berkenan mengutus RP Barnabas Nono Juarno, OSC untuk berkarya sebagai Pastor Kepala bilamana kelak Stasi Santo Laurensius ditingkatkan statusnya menjadi sebuah Paroki, mulai awal tahun 2012, untuk 3 tahun lamanya. Setelah masa itu berakhir maka selanjutnya akan digembalakan oleh para imam KAJ.  Hal ini tampaknya disambut baik oleh pihak Keuskupan dengan segera memutuskan penetapan peningkatan status stasi menjadi paroki.

Pada Minggu, 15 Januari 2012, Uskup Agung Jakarta, Mgr. Ignatius Suharyo menerbitkan Surat Penegasan Pendirian Paroki Santo Laurensius, Alam Sutera – Serpong Utara, Tangerang, dengan no : 025A/3.15/2012.  Juga melantik Dewan Paroki dan Pengurus Gereja dan Dana Papa Roma Katolik Gereja Santo Laurensius, Alam Sutera – Serpong Utara, Tangerang Selatan.

Pada awal Paroki ini dibentuk terdapat 2.757 kepala keluarga dengan 9.627 orang umat beriman.  Terbagi dalam 66 lingkungan dengan 16 wilayah.  29 lingkungan / 6 wilayah berada di kawasan Alam Sutera dan sekitarnya, sementara 37 lingkungan / 10 wilayah berada di kawasan Gading Serpong dan sekitarnya.

RP Barnabas Nono Juarno, OSC, yang menggembalakan Paroki ini pun akhirnya memperoleh rekan kerja untuk membantu tugas pastoralnya sebagai Pastor Paroki.  Secara berturut-turut, RD Johan Ferdinand Wijshijer, mulai bertugas sejak 1 Maret 2012.  Sebelumnya beliau bertugas di Paroki Kalvari, Lubang Buaya.  Selanjutnya pada 1 Mei 2012, RP Sangker Sihotang, OSC, bergabung melengkapi jajaran imam di Paroki Santo Laurensius.  Sebelumnya beliau bertugas di Paroki Cimahi.

Dengan bersemboyankan “Pauperes Sunt Thesauri Ecclesiae”, Kaum Miskin adalah Harta Gereja, maka Paroki Santo Laurensius turut bergiat dalam kehidupan menggereja di Keuskupan Agung Jakarta sebagai Paroki-nya yang ke-62, dan menjadi Paroki ke-11 di Dekenat Tangerang, serta menjadi pemekaran ke-3 dari Paroki Santa Monika, Serpong.