Gereja Santo Laurensius lahir sebagai pemekaran ketiga dari Paroki Santa Monika, setelah Santa Odilia dan Santa Helena. Dalam kurun waktu lima belas tahun terakhir ini jumlah umat Paroki Santa Monika memang berkembang sangat pesat. Selain banyaknya pendatang baru ke kawasan Serpong, setiap tahun juga selalu banyak baptisan anak dan orang dewasa. Saat ini, umat Paroki Santa Monika bejumlah 22.860 jiwa terdiri atas 7.279 keluarga, menyebar di 26 wilayah yang mencakup 154 lingkungan. Jumlah umat yang berkembang pesat ini sekarang dilayani oleh empat imam.
Meskipun di Santa Odilia dan Santa Helena telah diadakan Perayaan Ekaristi setiap Minggu namun Perayaan Ekaristi pada hari Sabtu dan Minggu di gereja Santa Monika selalu dipenuhi umat. Bahkan, banyak di antara umat yang terpaksa duduk di luar gedung atau di Aula. Kerapkali untuk mencari tempat duduk pun umat sampai terkesan berebut kursi. Apalagi pada hari-hari besar seperti Paska dan Natal, untuk mendapat tempat duduk umat harus datang satu jam sebelum Perayaan Ekaristi dimulai.
Perkembangan pesat ini tentu sangat menggembirakan namun sekaligus merupakan tantangan. Makin besarnya jumlah umat harus diiringi dengan kedewasaan dan kemandirian di tingkat kelompok basis, tetapi bagaimanapun juga umat mendambakan pelayanan rohani yang akan menjadi sumber kekuatan untuk berkembang. Oleh karenanya, pembangunan gereja baru merupakan suatu kebutuhan demi perkembangan rohani dan kualitas hidup pada umumnya. Dan syukur kepada Tuhan, Tuhan telah melimpahkan berkatNya melalui Pengembang Perumahan Alam Sutera yang menyediakan lahan untuk berdirinya gereja Katolik.
Setelah diadakan serangkaian pembicaraan baik dengan pihak Paroki Santa Monika dan Keuskupan Agung Jakarta, kesempatan ini disambut baik oleh Paroki untuk merintis berdirinya gereja baru sebagai pemerkaran Santa Monika. Untuk menindaklanjuti hal ini maka pada tanggal 19 Maret 2004 dibentuklah Panitia Pembangunan Gereja Santo Laurensius. Panitia dilantik dan diberkati oleh Rama Widyosuhardjo, OSC, Pastor Kepala Gereja Santa Monika, dalam Perayaan Ekaristi yang diselenggarakan di Kapel Sekolah Santa Lurensia pada tanggal 20 April 2004 di Kapel Sekolah Santa Laurensia, Alam Sutera.
Tidak lama kemudian, pada tanggal 4 Mei 2004 Bapak Uskup Agung Jakarta, Julius Kardinal Darmaadmadja, SJ meneguhkan berdirinya badan hukum Pengurus Gereja dan Dana Papa Roma Katolik (PGDP) Gereja Santo Laurensius yang dikukuhkan dengan Akta Notaris No. 8 tertanggal 21 Mei 2004 oleh Notaris Nanny Sri Wardani. Pendirian Badan Hukum tersebut membuat kita makin diteguhkan untuk melangkah maju guna mewujudkan keinginan mendirikan gereja. Kelak, paroki akan mencakup Wilayah 7a, 7b, 8, dan 9.
Pada tanggal 9 September 2004 Rama Roy Djakarya, Pr bertindak mewakili Keuskupan Agung Jakarta telah membubuhkan tandatangan persetujuan atas gambar teknis Gereja Santo Laurensius yang sangat dibutuhkan untuk pengurusan IMB.
Berbekal persetujuan dari Keuskupan Agung Jakarta, Panitia Pembangunan Gereja Santo Laurensius dengan tekun dan penuh semangat melakukan pertemuan dalam kelompok-kelompok kecil untuk memikirkan setiap langkah perkembangan menuju terwujudnya gereja. Biasanya pertemuan diselenggarakan di sekretariat pada malam hari. Banyak anggota panitia yang datang ke pertemuan langsung dari tempat kerja.
Seksi perizinan dengan sabar dan ulet melakukan pendekatan ke masyarakat dan para pejabat pemerintahan untuk mengurus izin pendirian gereja dan izin mendirikan bangunan. Usaha mereka kini telah membuahkan hasil seperti yang diharapkan, yaitu diterbitkannya Surat Keputusan Bupati Tangerang Nomor 593/Kep. 143-Huk/2005 tentang persetujuan penggunaan tanah fasilitas social milik Pemerintah Kabupaten Tangerang di Komplek Perumahan Alam Sutera Desa Pakulonan Kecamatan Serpong Kabupaten Tangerang untuk sarana kebaktian (Gereja) oleh Badan Pengurus Gereja dan Dana Papa Roma Katolik Santo Laurensius. Tidak lama setelah penerbitan surat izin ini, pada tanggal 31 Mei 2005 keluar pula Izin Mendirikan Bangunan.
Sekarang pembangunan fisik telah dimulai dengan ditandai pemberkatan tiang pancang dan peletakan batu pertama dalam suatu ibadat yang dipimpin oleh Rama Roy Djakarya, Pr didampingi oleh Rama YD Widyosuhardjo, OSC dan Rama Antonius Suprapto, SScc pada tanggal 10 September 2005.
| < Prev | Next > |
|---|






