Tak bisa disangkal bahwa perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini begitu pesatnya. Banyak penemuan baru yang bisa menunjang kehidupan manusia. Misalnya saja dalam dunia kesehatan, komunikasi dan transportasi. Dunia digital merambah sampai ke pelosok desa. Banyak orang dimudahkan dengan semuanya itu. Alat-alat komunikasi mempermudah orang untuk berkomunikasi satu dengan yang lain. Semua itu berguna bagi kehidupan manusia.
Tetapi tidak bisa disangkal juga bahwa meskipun ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang pesat, penderitaan di dunia ini tetap ada. Manusia tidak bisa membebaskan dirinya dari penderitaan. Ilmu pengetahuan dan teknologi tidak bisa menjamin hidup manusia bebas dari berbagai macam penderitaan. Ada sakit penyakit, bencana alam dan bencana yang ditimbulkan karena keserakahan manusia, dan bencana atau musibah lainnya. Bahkan ada yang mengatakan misalnya dalam dunia kesehatan, semakin banyak ditemukan pengetahuan dan teknologi yang menunjang kesehatan, jenis penyakit yang diderita manusia semakin kompleks. Manusia tidak luput dari tangisan dan kesedihan.
Penderitaan Ayub adalah juga penderitaan manusia zaman ini (Ayub 7:1-4.6-7). Begitu berat penderitaan yang dialami Ayub sampai ia mengatakan “hari-hariku berlalu lebih cepat daripada torak dan berakhir tanpa harapan. Ingatlah bahwa hidupku hanya hembusan nafas, mataku tidak akan melihat lagi yang baik”. Ayub seperti mengalami keputusasaan dalam deritanya. Tetapi ia tetap berusaha setia kepada Allah. Ia tidak mau meninggalkan Allah. Ayub tetap bertekun dalam penderitaannya.
Kehidupan Ayub dapat menjadi sarana kesaksian yang bisa mengembangkan kehidupan iman kita. Pertama, kita diajak untuk tetap setia kepada Allah dalam segala kondisi kehidupan kita. Kedua, kita diajak untuk meyakini kata-kata Rasul Paulus bahwa “penderitaan zaman sekarang ini tidak sebanding dengan kemuliaan yang akan dinyatakan” (Rm 8:18). Dalam penderitaan kita tetap bisa bersaksi dan mewartakan Injil. Penderitaan bukan sebagai halangan untuk mewartakan Injil. Paulus mengatakan kepada jemaat di Korintus,”Celakalah aku jika aku tidak memberitakan Injil” (I Kor 9:16-19.22-23). Pemberitaan Injil atau kabar gembira, kabar keselamatan tidak boleh berhenti karena keterbatasan dan kelemahan yang kita alami. Allah harus tetap diwartakan dalam keadaan apapun supaya kita bisa memenangkan sebanyak mungkin orang.
Pemberitaan Injil tidak hanya dilakukan dengan berkotbah atau memberi renungan, tetapi juga melalui tindakan-tindakan kasih. Kita bisa melihat peristiwa dimana Yesus menyembuhkan ibu mertua Simon (Markus 1: 29-39) . Yesus memegang tangan perempuan itu dan lenyaplah penyakitnya. Dalam kehidupan kita sekarang ini, di sekitar kita, mungkin banyak orang yang sedang merindukan sentuhan tangan Saudara. Mungkin banyak di antara orang tua yang sudah lama tidak pernah mengalami sentuhan tangan anaknya, karena ia harus hidup di panti jompo. Janji untuk melawat seminggu sekali tidak pernah ditepati. Marilah kita wartakan Injil dengan perbuatan kasih dan meringankan penderitaan sesama dengan kebaikan. Tuhan memberkati.



