Gereja Katolik Santo Laurensius - Paroki Alam Sutera

Rapat Kuria Maria Gratia Plena, 25 Februari 2018

Pada Hari Minggu, 25 Februari 2018 di GKP Paroki Alam Sutera berlangsung Rapat Kuria Maria Gratia Plena dan Pemilihan Perwira Kuria serta Perayaan Ultah Kuria MGP ke-6 yang di hadiri oleh Romo Hadi. Anggota Aktif Legio Maria Kuria Maria Glatia Plena sekitar 275 Legioner.
Foto kiriman Bu Kiem Kiem

Berikut tulisan yang diambil dari situs www.legiomariasenatusbejanarohani.or.id yang mungkin bisa memberi inspirasi kepada kita yang membacanya.

Rutinitas yang Membosankan
Oleh Victoria Suvi Tendiana Lili
Ujian terberat bagi saya selama menjadi legioner adalah kebosanan terhadap ritual rapat dan doa. Pada saat itu selain menjadi legioner, saya juga aktif mengikuti beberapa pelayanan lainnya seperti PD Kharismatik, Sel, Choice, Koor, pembina BIA dan BIR, Lektor, Pemazmur. Saya merasa kegiatan lain jaaauuhhh lebih menarik dan lebih asyik karena tidak banyak melakukan doa ataupun rutinitas seperti Legio Maria. Setelah beberapa lama saya merasa bosan karena tidak merasakan manfaat apa-apa dari ritual doa dan rapat. Saya pikir ini karena saya tidak memahami tujuan dan maksudnya, akhirnya rapat dan doa tidak lagi menjadi prioritas saya. Apabila ada alasan untuk terlambat rapat, saya senaaaaang skali. Lumayan lah….rosarionya tinggal separuh jalan. Pada saat itu saya berpikir yang penting pelayanannya dan tugasnya saya jalankan dengan baik. Apabila ada kegiatan atauu aktivitas lain yang lebih menarik maka saya bolos rapat dengan berbagai alasan. Bagi saya pribadi, alasan-alasan tersebut menjadi pembenaran untuk menghindari rapat dan doa yang menurut saya sangat membosankan.

Hal ini berlangsung cukup lama, sekitar dua hingga tiga bulan. Hingga suatu saat, pada saat rapat, Frater pembimbing rohani yang sekarang sudah menjadi Pastor, menceritakan kesaksiannya mengenai kuasa doa. Beliau sharing bagaimana beliau bergumul tentang suatu hal dan doa menjawab kebimbangannya. Bagaimana kejenuhan beliau atas rutinitas di biara dipulihkan melalui kuasa doa. Bagaimana beliau merasa semakin dekat dan semakin peka terhadap kehendak Allah. Intinya beliau menjelaskan bahwa doa rosario dan rutinitas lainnya adalah nyawa dari segala bentuk pelayanan. Apabila kita kehilangan nyawa maka segala jenis pelayanan apapun bentuknya menjadi sia-sia. Awalnya saya merasa cerita ini sangat klise, terlalu alkitabiah dan terlalu rohaniah sehingga saya berpikir, frater kurang realistis. Saya penasaran ingin mengetahui lebih detail lagi apa yang benar-benar frater rasakan sebagai manusia biasa, bukan sebagai calon imam. Maka selesai rapat saya menghampiri frater dan meminta waktu untuk berbincang-bincang secara pribadi dengan beliau yang ditanggapi dengan penuh sukacita. Reaksi frater ini membuat saya sedikit heran karena sepertinya sukacita yang frater tunjukkan seperti orang yang sedang menemukan barangnya yang hilang.

Hal pertama yang saya tanyakan adalah : “Frater, mengapa frater memilih topik ini untuk dibahas dalam rapat? Apakah ada alasan tertentu yang membuat frater memilih topik ini?” Kemudian Frater menjawab sambil tetap tersenyum : “Tadi pada saat doa pagi dan bermeditasi, saya mendoakan seluruh anggota Legio Maria bimbingan saya. Kemudian pada saat hening, saya merasa seperti ada yang mengingatkan bahwa ada Legioner yang perlu mendengar kesaksian saya mengenai kuasa doa. Dia sedang merasa jenuh, bosan dan tidak mengerti, belum dapat memahami apa manfaat dari doa dan rutinitas rapat Legio, sehingga menjadi semacam beban bagi Legioner itu.”

Saya terdiam untuk beberapa saat. Jawabannya sangat mengejutkan bagi saya yang saat itu sangat-sangaaaat jarang berdoa. Kemudian saya bercerita bahwa setiap kali berdoa rosario dan mendengarkan firman, saya merasa mengantuk, seperti waktu SD mendengarkan penjelasan guru di kelas. Walaupun tahu bahwa apa yang dijelaskan adalah hal yang baik dan benar juga wajib kita ketahui, tapi tetap saja semua itu terasa begituuuuu membosankan dan rasanya hanya buang-buang waktu saja. Kemudian frater bertanya, apakah pada saat kuliah saya masih merasakan apa yang saya rasakan pada waktu SD? Hhhmmm…..kemudian saya menjawab : “Kadang-kadang, sih, tapi sudah jarang karena mata kuliah di kampus menurut saya jauh lebih menarik daripada mata pelajaran waktu SD.”

Frater menjawab, pernahkah terpikir olehmu bahwa itu bukan karena mata kuliahnya lebih menarik daripada mata pelajaran di SD, tapi karena pola berpikirmu yang sudah jauh lebih dewasa dalam mengevaluasi materi pembelajaran? Demikian pula dalam hal iman…. Semakin kita dewasa dalam iman, maka semakin dalam pemikiran kita pada saat kita membaca firman ataupun berdoa, sehingga pada akhirnya kita akan bertumbuh dan semakin bijak dalam mengevaluasi Firman serta pentingnya berdoa. Kedua hal itulah yang dapat mendekatkan diri kita pada Allah, membuat kita semakin mengerti dan memahami apa sebenarnya yang jadi kehendak Bapa, bukan kehendak kita. Dengan itu juga kita dapat menyaring dan memilah, tidak memakai kehendak Allah sebagai alibi maupun pembenaran atas hal-hal yang salah dan menyesatkan. Berdoa dan mendengarkan Firman adalah makanan rohani yang paling mendasar.

Bagaimana kita dapat memiliki energi yang cukup untuk berkarya apabila kita jarang berdoa dan mendengarkan Firman? Bagaimana saya bisa membedakan kehendak saya sendiri dari kehendakNYA tanpa berbincang dan bertanya pada Allah? Bagaimana kita dapat memahami dan menyadari untuk apa kita ada disini, melakukan pelayanan? Saya pun langsung terdiam karena bagi saya kata-kata frater tadi sangat dalam dan mengena.

Pertanyaan-pertanyaan itu menjadi PR perenungan saya sampai saat ini.

Apakah saya sudah dewasa dalam iman?

Apakah saya sudah cukup dekat dengan Allah untuk memahami apa yang jadi kehendakNYA?

Apakah alasan dan tujuan pelayanan saya sudah benar? Bukan semata-mata karena keasyikan dan kepuasan saya saja? Seringkali saya menetapkan tujuan awal hanya untuk memuaskan diri sendiri. Saya mencuri kemuliaan Allah! Anda?

Sumber Tulisan

Leave a Reply

Your email address will not be published.