Gereja Katolik Santo Laurensius - Paroki Alam Sutera

Tantangan yang Menguatkan

Pengalaman membuat Mida Tobing, ibu dari tiga orang anak ini menjadi wanita yang tangguh. Lahir dari keluarga Kristen Protestan (HKBP), Mida kemudian menentukan pilihan perjalanan imannya menjadi Katolik ketika masih di SMA Regina Pacis, Solo dimana dia tinggal di asrama yang diasuh oleh para suster-suster Ursulin. Sejak itu pula Mida memulai kecintaannya kepada Maria.

Kemudian pendidikan dilanjutkan ke Bogor di AKA (Akademi Kimia Analis) dan bertemu dengan seorang pria yang menarik perhatiannya dan kelak menjadi suaminya. Mereka mulai menjalani masa-masa pacaran dengan mengenal satu-sama lain lebih dalam. Ada satu hal yang membuat perjalanan masa pacaran ini lama dan butuh pertimbangan yang lebih matang, yakni perbedaan kepercayaan. Ternyata pria bernama Ipung Saifurrohim sang pujaan hati beragama Islam. Sebagai orang timur dan orang yang beragama mereka tidak mau melangkah ke jenjang perkawinan tanpa restu orang tua. Mereka butuh waktu 10 tahun hingga restu didapatkan. Selama masa penjajagan malah Mida lebih diteguhkan imannya dengan menjadi pasukan Maria saat memulai karir bekerja di Paroki Katedral Bandung.

 

Komitment Saat Perkawinan

Dengan restu yang didapat, merekapun memantapkan diri melangkah ke jenjang perkawinan. Mengikuti Kursus Persiapan Perkawinan dan kanonisasi sebagaimana diharuskan dalam Gereja Katolik, mereka pun memastikan diri maju ke altar tahun 1992. Pada saat pemberkatan di Gereja St. Fransiskus Asisi, Tebet itulah komitmen akan keyakinan ditentukan. Mereka sepakat menjalankan iman masing-masing akan tetapi pendidikan anak sebagai buah cinta mereka akan dididik secara Iman Katolik. Komitmen ini mereka pegang hingga sekarang. Suami dan isteri saling mendukung pasangan untuk menghayati imannya masing-masing.

Sebagai pasangan muda, mereka berdua kerja untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Dalam perbincangan dengan Salus, Mida bertutur, bahwa perjalanan kehidupan rumah tangga dan iman tidak serta-merta berjalan dengan mulus. Ada riak dan gelombang di sana-sini. Namun dengan selalu mengingat kembali komitmen yang dibuat dan berserah diri kepada Tuhan, mereka tetap bisa berjalan dan melampauinya sampai sekarang.

Pada suatu saat, Mida merasakan suatu kekeringan dalam kehidupan imannya. Menjalani rutinitas hidup yang begitu melelahkan dan juga situasi agak mencekam sekitar tahun 1998, dia merasa butuh siraman rohani yang lebih baik. Mengikuti perayaan Ekaristi dengan kotbah yang monoton membuat Mida merasakan kekeringan rohani. Situasi ini membuat dia mencoba mendapatkannya di tempat lain. Ajakan teman untuk ikut beribadah di Gereja Duta Injil disambut dengan baik dan menjadi jawaban terhadap kekeringan rohani yang dialami.

 

Tantangan yang Menguatkan

Jajan rohani ini dijalani kurang lebih tiga tahun. Pengembaraan ini berakhir ketika anak pertama, Kevin Ilham Pratama yang bersekolah di Santa Laurensia, diminta mengisi formulir komuni pertama. Si anak menanyakan pada ibunya, “Ibu, kita ini katolik apa bukan? Kita sembahyang dan beribadat tidak pernah memakai tanda salib?” Walaupun mereka menikmati bersekutu di Gereja Duta Injil, namun sebagai orang tua ibu Mida dikagetkan. Dia harus menentukan pilihannya kembali. Dalam situasi itu, dia memutuskan untuk kembali ke Gereja Katolik. Mereka membenahi kembali orientasi imannya. Mida pun ikut Sekolah Evangelisasi Pribadi di Shekinah.

Pada saat usia anak-anak sudah membutuhkan perhatian yang lebih besar, keluarga memutuskan Mida untuk fokus memperhatikan anak dan berhenti bekerja. Untuk memantapkan orientasi iman yang dipilih, Mida sedikit memaksa anak-anaknya untuk aktif dalam kegiatan kegerejaan. Saat mereka sudah tinggal di Alam Sutera, Khristofer Noah Gaizka anak ketiganya diikutsertakan pada pembinaan Putera Altar (PA) sekitar tahun 2005. Lalu disusul Innocentia Felicia Anindya Kishi diikutsertakan pada pembinaan Puteri Sakristi (PS) sekitar tahun 2007.

Inilah juga sebagai cikal-bakal Mida banyak meluangkan waktu dalam pelayanan di Gereja. Dia terlibat dalam pendampingan PA/PS. Perjuangan ini tidak sia-sia. Ketiga anaknya ikut aktif di PA/PS sampai sekarang.

Ketika Stasi St. Laurensius memulai membentuk kegiatan sendiri untuk cikal bakal paroki, maka Mida diajak dan ditantang oleh para Legioner St. Monika, yaitu ibu Lies dan ibu Agnes bersama Pastor Donatus OSC untuk mendirikan Legio Maria di Stasi St. Laurensius. Maka ibu-ibu Legioner mulai berkampanye dengan membagi sebagian anggotanya yang bertempat tinggal di stasi bersama-sama untuk membentuk Legio Maria di St. Laurensius. Tetapi masih bingung untuk memilih yang menjadi ketua Presidium. Lalu kedua ibu tersebut melamar Mida untuk mau membentuk Presidium dan sekaligus menjadi ketuanya. Berbekal sebagai Legioner di Paroki Kathedral Bandung selama 3 tahun dan 3 tahun di Paroki Fransiskus Asisi, maka diawali 8 Mei 2007 Mida memulai Rapat Perdana Legio Maria. Disinipun Mida mendapatkan tantangan. Beberapa orang tokoh stasi mengatakan untuk apa Legio Maria. Apa itu Legeio Maria? Namun Mida tidak surut dalam pelayanan ini. Apalagi pada awal Stasi membuat liturgi sendiri, situasi masih morat-marit dan untuk itu dibutuhkan para Legioner yang rela membantu. Dan berkat dukungan Pastor Donatus, Mida mendatangi ketua lingkungan satu-persatu untuk mencari data orang sakit, lansia ataupun orang tua yang perlu dikunjungi sebagai tugas dari pasukan Maria. Dan hasilnya apa yang kita lihat sekarang ini. Besarnya Legio Maria memberi gairah iman buat Mida. Satu kalimat yang menguatkan Mida dalam melayani adalah kata-kata pastor Donatus yang menyatakan “kita harus menjadi orang yang tahan banting” yang disampaikan pada saat rekoleksi dewan stasi.

Tantangan yang paling menyedihkan dialami ketika Mida mau diangkat sebagai Ketua Presidium Legio Maria di St. Laurensius. Beberapa orang Dewan Kuria Legio meragukan kemampuan dan ketulusannya memimpin Legio Maria karena dia bersuami seorang muslim. Penentangan justru dia dapatkan dari Gereja. Dalam situasi seperti itu dia memberi janji kepada dewan akan bertanggungjawab menerima tugas itu. Dan dia telah membuktikannya.

Suatu ketika, ada tercetus ide keluarga untuk kembali ke Jakarta. Penolakan pertama datang dari sang suami sebagai kepala keluarga dan pengasih sang isteri. “Apa mungkin Mama bisa tenang terpisah dari komunitas di Gereja yang sudah terbangun selama ini?” Ini adalah salah satu bukti dari komitmen yang mereka buat saat pemberkatan perkawinan. Suami sungguh mendukung isteri dalam menjalankan imannya. Mida dengan segala tantangan dan lika-liku hidup yang dijalani, mendapatkan kekuatan imannya dengan terlibat dalam pelayanan. (Asden)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.