Gereja Katolik Santo Laurensius - Alam Sutera

Keheningan Gedono

Menjelang datangnya malam

Kami menghadap wajah-Mu

Untuk menghaturkan salam

Sambil mohon doa restu

Sambutlah dalam tangan-Mu

Hidup serta segalanya

Simpanlah dalam hatimu

Harapan kami semua

Ya Allah Bapa surgawi

Bersama Putra dan Roh-Mu

Kabulkanlah doa kami

Sekarang serta selalu

Amin

 

Madah melantun dalam gaya Jawa dengan iringan gender, slentem dan bonang pada keheningan Ibadat Penutup Pertapaan Bunda Pemersatu – Gedono, sementara alam di luar gereja menyambut dengan caranya tersendiri

Terang senja perlahan namun pasti berubah menjadi gelap, sementara celotehan burung-burung berganti dengan lengkingan jangkrik dan serangga malam lainnya

Inilah tempat yang tepat bagi orang yang tinggal di kota, terutama Jakarta dan sekitarnya, untuk mundur sejenak dari kesibukan yang sangat luar biasa. Terletak di lereng gunung Merbabu, tepatnya di  Dukuh Weru, Desa. Jetak, Kec. Getasan, Kab. Semarang, 7 km dari jalan raya Salatiga – Boyolali

 

Pertapaan Bunda Pemersatu, pertapaan para suster Ordo Cisterciensis Strictioris Observantiae – OCSO yang dihuni sekitar 30 suster / rubiah dan dipimpin oleh Abdis Martha Elisabeth Driscoll OCSO yang sehari-hari dipanggil ibu

Ibadat pertama dilakukan pada jam 3:15 pagi berupa Ibadat Malam selama kurang-lebih 45 menit berupa Doa Hening selama 30 menit dan Lectio Devina. Ibadat berikutnya adalah Ibadat Pagi pada jam 5:45 dimana setiap hari dibacakan Peraturan St Benediktus

Perayaan Ekaristi dilaksanakan pada jam 7:30 yang dilanjutkan dengan Ibadat Tertia pada jam 8:00. Ibadat Tengah Hari (Sexta) dilaksanakan jam 11:15, sedangkan jam 16:45 dilaksanakan Ibadat Sore dan rangkaian ibadat ditutup dengan Ibadat Penutup pada jam 18:55

Itulah ibadat harian yang dilaksanakan para rubiah OCSO, yang dapat dikuti oleh para tamu, mengikuti tata-cara St Benediktus pada abad 6, dimana sebagian besar ibadat diisi dengan memadahkan Mazmur secara bersahut-sahutan dengan indahnya

 

 

Kegiatan apa yang dilakukan para suster disela-sela jam ibadat ? Mereka membuat hosti, kue, selai, mentega, sirup asem dan strawberry, kartu-kartu rohani dan menjualnya untuk memenuhi kebutuhan biara. Disamping itu mereka berkebun sayur secara organik untuk memenuhi kebutuhan para suster dan tamu yang datang dan mengerjakan sendiri pekerjaan rumah tangga dengan dibantu beberapa penduduk setempat

Umat Katolik dapat melakukan retret pribadi dengan berkonsultasi pada suster yang bertugas. kunjungan rombongan hanya dapat dilakukan paling banyak 6 orang dan setiap orang diperkenankan menginap selama 8 hari dalam 1 tahun

Anda berminat ?

Silahkan menghubungi

telpon 0298 – 7100615 atau handphone 0811 – 278299 bicara dengan suster Bagian Tamu atau email rtamugedono@gmail.com

 

informasi lain bisa klik

http://www.kompasiana.com/bamset2014/begini-heningnya-pertapaan-bunda-pemersatu-gedono_57bc03e4ed9673c50f3818ae

 

11 thoughts on “Keheningan Gedono

  1. Tan Yusuph says:

    Hari ini kami menghubungi telepon 0811-278-299 diterima oleh Suster Tres bahwa ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk bisa retret di Gedono. Baik pribadi atau max. 12 orang untuk kelompok yakni harus buat janji terlebih dahulu dan diatur jadwalnya, harus mengikuti 7x ibadat dan 1x misa dalam sehari, untuk biaya ada sumbangan untuk per orang Rp90rb/malam/orang atau boleh lebih karena sifatnya sumbangan. untuk informasi lebih lanjut silakan hubungi 0811-278-299 atau email rtamagedono@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.