Gereja Katolik Santo Laurensius - Paroki Alam Sutera

PERJUANGAN MENJADI KELUARGA KUDUS

Lukas 2: 41-53

Pada suatu hari yang terik di Pasar Baru, Jakarta,  sorang ibu yang tengah asyik memilih sepatu tiba-tiba sadar bahwa anaknya tidak ada di sampingnya. Sepatu yang di tangannya segera diletakkan kembali lalu mencari anaknya di toko itu, namun tidak ada. Ia ke luar toko dan terus mencarinya, namun tak ketemu juga. Dalam kepanikan ia mengingat-ingat kapan dan di mana terpisah dengan anaknya, karena si ibu telah berganti-ganti keluar-masuk toko tanpa mempedulikan anaknya. Ibu itu asyik memperhatikan kebutuhannya sendiri dan si anak pun punya perhatian yang lain. Setelah pontang-panting, akhirnya si anak ditemukan di tengah keramaian dalam kondisi kebingungan. Begitu ketemu, ibu langsung menampar pipi si anak berkali-kali sampai anaknya menjerit-jerit.

Setelah perjalanan seharian dari Yerusalem ke Nasaret, Maria dan Yusuf baru sadar bahwa Yesus tidak beserta mereka. Mereka langsung kembali ke Yerusalem untuk menemukan Yesus. Sesudah tiga hari, mereka menemukan Dia dalam Bait Allah; Yesus sedang duduk di tenah-tengah ulim-ulama, sambil mendengarkan mereka dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka. Meskipun panik dan bisa jadi kesal luar biasa namun Maria dan Yusuf tercengang menyaksikan keadaan ini.

Dalam hidup dan kesibukan sehari-hari, banyak orang yang terpaku pada perhatian yang mengasyikkan dirinya; tidak peduli sejauhmana yang menjadi perhatiannya itu berharga sampai-sampai yang berharga baginya terlupakan dan hilang.

Peristiwa Maria dan Yusuf mengingatkan kita perlunya kesadaran akan hal yang berharga, karena tanpa kesadaran yang cukup akan menimbulkan kerepotan, bahkan bisa jadi kehilangan yang terpenting dalam hidupnya. Tidak sedikit anak yang mengalami kesepian dan kehilangan figur teladan orang tua karena orang tua menghabiskan waktu untuk kesibukannya bekerja. Karena absen memberi perhatian yang memadai, orang bisa sangat menyesal ketika anaknya sudah terlanjur menjadi anak yang bermasalah. Celakanya, ketika menemukan anaknya bermasalah belum tentu orang tua bisa berlaku bijaksana dengan mendengarkan dan mencari solusi yang baik, tetapi sebaliknya dengan emosi yang bergejolak bisa jadi justru memperparah keadaan anak.

Ketika menemukan Yesus, Maria dan Yusuf tercengang; menyadari kehadiran Yang Ilahi, bukan menekankan kekesalan dan egoisme. Maria dan Yusuf berani meredakan kekesalan dengan diam dan hening yang menumbuhkan kesadaran akan kehadiran Yang Ilahi dalam Yesus.

Kesucian dapat terjadi dalam jatuh-bangun perjalanan hidup, asalkan orang sadar untuk menemukan dan menghayati Yang Ilahi; tidak membiarkan diri larut dalam kehidupan tanpa nilai keilahian. Selamat Tahun Baru. [ABW]

Leave a Reply

Your email address will not be published.