Gereja Katolik Santo Laurensius - Paroki Alam Sutera

Ajaran Sesat / Bidaah Tentang Tritunggal

Beberapa ajaran yang oleh Gereja dinyatakan sesat atau bidaah mengenai pemahaman tentang Allah Tritunggal:

  1. Triteisme :
    Triteisme yaitu paham yang mengajarkan bahwa orang Kristen percaya kepada TIGA ALLAH: Bapa, Putera, dan Roh Kudus.
  2. Modalisme:Modalisme digunakan untuk menyebut paham yang mengajarkan bahwa Bapa, Putera, dan Roh Kudus itu hanyalah tiga nama atau tiga cara berbicara mengenai Allah yang sama dalam situasi atau fungsi yang berbeda. Kalau Ia itu Pencipta, maka disebut Bapa, kalau penebus disebut Putera, dan kalau Ia berkarya di dunia dan di dalam hati manusia disebut Roh Kudus.
  3. Sub-Ordinatianisme:
    Paham yang mengajarkan bahwa Bapa adalah Allah yang penuh, sedangkan Putera dan Roh Kudus adalah Allah yang tidak penuh (lebih rendah tingkatannya).
  4. Arianisme:
    Paham yang diajarkan oleh Arius (abad 3) bahwa Yesus itu bukan sungguh Allah dan bukan sungguh manusia, tetapi Yesus itu adalah setengah Allah dan setengah manusia.
  5. Adopsianisme:
    Paham yang mengajarkan bahwa Yesus itu bukanlah Allah, Yesus hanyalah manusia biasa yang diangkat oleh Allah untuk menjadi nabi, Kristus, dan Tuhan.
  6. Doketisme:
    Paham yang mengajarkan bahwa Yesus itu sungguh Allah tetapi Ia tidak sungguh-sungguh manusia. Ia hanya manusia semu.
  7. Monofisistisme:
    Paham yang diajarkan oleh Eutykes bahwa Yesus mempunyai satu kodrat (physis) saja, yaitu kodrat Allah. Yesus tidak mempunyai kodrat manusia. Ajaran yang benar adalah Yesus mempunyai satu pribadi dua kodrat, yaitu kodrat Allah dan kodrat manusia, sehingga Yesus sungguh Allah dan sungguh manusia.
  8. Nestorianisme:
    Yaitu paham yang diajarkan oleh Nestorius (abad IV) bahwa Yesus tidak hanya mempunyai dua kodrat, tetapi juga dua pribadi yaitu pribadi Allah dan pribadi manusia. Yang benar adalah: Yesus mempunyai satu pribadi, satu orangNya.
  9. Pneumatomachi:
    Paham yang mengajarkan bahwa Roh Kudus itu bukan Allah.
  10. Saksi Yehova/Yehuwa:
    Paham yang mengajarkan bahwa Yesus itu bukan Allah, tetapi Dia adalah ciptaan.

Ajaran sesat atau bidaah yang ada kaitannya dengan Allah Tritunggal adalah siapa saja atau paham dari pihak mana pun yang tidak mengakui tentang ke-Allah-an Yesus, ke-Allah-an Roh Kudus, dan tidak mengakui tentang Allah Tritunggal yang mahakudus. Jadi jika ada pandangan seperti tersebut di atas, maka para pengikut Yesus Kristus atau orang Kristiani wajib hukumnya untuk menolak mentah-mentah.

http://luminareminus.wordpress.com

Nah pertanyaan kita adalah bagaimana ajaran tentang Tritunggal yang benar dan sesuai ajaran Gereja ?

Mari kita simak Katekismus Gereja Katolik

Dogma tentang Tritunggal Mahakudus

253   Tritunggal adalah satu. Kita tidak mengakui tiga Allah, tetapi satu Allah dalam tiga Pribadi: “Tritunggal yang sehakikat” (Konsili Konstantinopel 1155: DS 421). Pribadi-pribadi ilahi tidak membagi-bagi ke-Allah-an yang satu itu di antara mereka, tetapi masing-masing dari mereka adalah Allah sepenuhnya dan seluruhnya: “Bapa adalah yang sama seperti Putera, Putera yang sama seperti Bapa. Bapa dan Putera adalah yang sama seperti Roh Kudus, yaitu satu Allah menurut kodrat” (Sinode Toledo XI 675: DS 530). “Tiap-tiap dari ketiga Pribadi itu merupakan kenyataan itu, yakni substansi, hakikat, atau kodrat ilahi” (K. Lateran IV 1215: DS 804).

254   Ketiga Pribadi ilahi berbeda secara real satu dengan yang lain. Allah yang satu bukanlah “seakan-akan sendirian” (Fides Damasi: DS 71). “Bapa”, “Putera”, “Roh Kudus”, bukanlah hanya nama-nama yang menyatakan cara-cara berada berbeda dari hakikat ilahi, karena mereka secara real berbeda satu dengan yang lain: “Bapa tidak sama dengan Putera, Putera tidak sama dengan Bapa, Roh Kudus tidak sama dengan Bapa dan Putera” (Sin. Toledo XI 675: DS 530). Masing-masing berbeda satu dengan yang lain oleh hubungan asalnya: Adalah “Bapa yang melahirkan, dan Putera yang dilahirkan dan Roh Kudus yang dihembuskan” (K. Lateran IV 1215: DS 804). Kesatuan ilahi bersifat tritunggal.

255   Ketiga Pribadi ilahi berhubungan satu dengan yang lain. Karena perbedaan real antar Pribadi itu tidak membagi kesatuan ilahi, maka perbedaan itu hanya terdapat dalam hubungan timbal balik: “Dengan nama-nama pribadi, yang menyatakan satu hubungan, maka Bapa dihubungkan dengan Putera, Putera dihubungkan dengan Bapa, dan Roh Kudus dihubungkan dengan keduanya: Walaupun mereka dinamakan tiga Pribadi seturut hubungan mereka, namun mereka adalah satu hakikat atau substansi, demikian iman kita” (Sin.Toledo XI 675: DS 528). Dalam mereka “segala-galanya… satu, sejauh tidak ada perlawanan seturut hubungan” (K. Firenze 1442: DS 1330). “Karena kesatuan ini, maka Bapa seluruhnya ada dalam Putera, seluruhnya ada dalam Roh Kudus; Putera seluruhnya ada dalam Bapa, seluruhnya ada dalam Roh Kudus; Roh Kudus seluruhnya ada dalam Bapa, seluruhnya ada dalam Putera” (ibid., DS 1331).

256   Santo Gregorius dari Nasiansa, yang dinamakan juga “sang teolog”, menyampaikan rumusan berikut tentang iman Tritunggal kepada para katekumen Konstantinopel:

“Peliharalah terutama warisan yang baik ini, untuknya aku hidup dan berjuang, dengannya Aku mau mati dan yang menyanggupkan aku memikul segala kemalangan dan menolak segala hiburan: ialah pengakuan iman akan Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Aku mempercayakannya hari ini kepada kalian. Di dalam pengakuan itu aku akan mencelupkan kamu pada saat ini ke dalam air dan mengangkat kembali dari dalamnya. Aku memberikan pengakuan itu kepada kalian sebagai pendamping dan pengawal seluruh kehidupan kalian. Aku memberikan kepada kalian ke-Allah-an dan kekuasaan yang satu, yang sebagai satu berada dalam tiga dan mencakup Ketiga itu atas cara yang berbeda-beda. Satu ke-Allahan tanpa ketidaksamaan menurut substansi atau hakikat, tanpa derajat lebih tinggi yang meninggikan atau derajat lebih rendah yang merendahkan … Itulah kesamaan hakikat yang tidak terbatas dari Ketiga yang tidak terbatas. Allah seluruhnya, tiap-tiapnya dilihat dalam diri sendiri … Allah sebagai yang tiga dilihat bersama-sama … Baru saja aku mulai memikirkan kesatuan, muncullah sudah Tritunggal dalam kemegahan-Nya. Baru saja aku mulai memikirkan Tritungggal, langsung saya disilaukan kesatuan” (or. 40, 41).

Leave a Reply

Your email address will not be published.