Gereja Katolik Santo Laurensius - Paroki Alam Sutera

Menjaga Kemurnian Batin

Corak kehidupan masyarakat Indonesia tampak sangat agamais. Orang-orang rajin beribadat dan berdoa, apalagi pada saat perayaan hari besar keagamaan. Perhatian orang akan pentingnya ibadat sedemikian besar sampai sulit mentoleransi orang yang melakukan tindakan berbeda dari yang diyakininya. Tata gerak dalam ibadat pun kadang-kadang jadi polemik yang memicu rasa kesal. Ironisnya, di tengah kehidupan yang tampaknya sangat agamais ini berkembang pula aneka kejahatan dan kebobrokan moral. Ada gejala, agama makin ditekankan tetapi iman tidak menjiwai kehidupan nyata.

Kiranya menarik untuk direnungkan apa yang ditulis pada akhir bacaan Injil yang dibacakan pada hari ini. Markus menyebutkan macam-macam kebobrokan moral, yaitu: pikiran jahat atau itikad buruk, percabulan atau kelakuan birahi yang tak bisa dibenarkan, pencurian, pembunuhan, perzinahan atau ketaksetiaan suami-istri, keserakahan, kejahatan atau tindak kekerasan, kelicikan atau tipu daya untuk mencelakakan, perbuatan tak senonoh atau tak menghargai perasaan orang lain, iri hati, hujat atau fitnah untuk menjatuhkan nama orang, kesombongan termasuk sikap kurang menghormati yang keramat, kebebalan atau tak bisa membedakan yang boleh dan tak boleh dikerjakan.

Benih-benih kebobrokan moral itu bersumber dari dalam batin manusia yang tidak peduli akan sisi-sisi rohani. Di dalam batin yang lemah akan kebijakan-kebijakan, bibit kebusukan mudah berkembang. Kalau kebusukan itu keluar dari batin akan menjadi sikap dan tindakan seperti dalam daftar kebobrokan di atas yang baunya tidak sedap.

Oleh karena itu, tertib ibadat memang penting, tetapi memurnikan batin manusia tidak boleh dinomorduakan. Yesus menekankan bahwa ibadat yang tulus, bukan sekadar puji-pujian dangkal tetapi harus disertai keyakinan rohani. Ibadat dan kehidupan sehari-hari tidak boleh dipisahkan. Yesus mengingatkan akan kecaman Nabi Yesaya terhadap kehidupan beragama orang-orang di Yerusalem yang menjalankan ibadat dengan tertib tetapi korupsi, ketidakadilan, dan kemelaratan dalam masyarakat dibiarkan. Dalam hal itu, hidup rohani dan kehidupan nyata terpisah.

Hidup beragama yang sejati bertujuan untuk memurnikan batin manusia Dengan batin yang bersih dan murni manusia tidak perlu khawatir untuk hidup di dalam masyarakat yang tidak semuanya bersih. Orang yang mempunyai batin bersih dan murni siap untuk membuat yang di luar menjadi bersih. Oleh karena itu, mengurus sikap batin agar makin bersih dan murni sangatlah penting.

Jika batin kita bersih dan murni, maka sikap dan perbuatan yang keluar juga akan baik, tidak menimbulkan kebusukan. Dalam kehidupan menggereja kiranya perlu kita mawas diri: Apakah kita telah mempunyai cara pandang yang tepat terhadap lingkungan sekitar atau masih sekadar aktif melakukan kegiatan dalam masyarakat. Sejauh mana kegiatan-kegiatan yang kita lakukan berdasar pada batin yang murni dan bersih untuk mengangkat kehidupan menjadi makin manusiawi, toleran, dan damai.

Leave a Reply

Your email address will not be published.