Gereja Katolik Santo Laurensius - Paroki Alam Sutera

Melebihi Pemikiran Manusia

Apakah kamu tidak mau pergi juga?

Ini adalah pertanyaan yang sangat menantang dari Yesus yang Dia tujukan kepada kedua belas murid-Nya. Pertanyaan sangat refleksif ini Dia lontarkan dipicu oleh sikap para murid lainnya yang memilih mengundurkan diri dan tidak mau lagi mengikuti Dia. Mengapa?

Hal ini berawal dari apa yang disampaikan Yesus kepada mereka, khususnya perkataan Yesus bahwa Dia adalah roti yang telah turun dari surga, roti hidup. Dan lebih lagi Yesus mengatakan bahwa roti yang Dia berikan itu adalah daging-Nya sendiri, dan barangsiapa makan daging-Nya dan minum darah-Nya, dia akan mempunyai hidup yang kekal, dan akan dibangkitkan pada akhir zaman. Perkataan dan ajaran ini dianggap sebagai perkataan keras oleh para murid yang banyak itu. Mereka tidak mampu memahaminya, karena apa yang disampaikan oleh Yesus itu sangat tidak masuk akal, jauh dari pengalaman manusiawi biasa. Maka mereka, dengan hanya menggunakan pikiran semata, bukan hanya tidak mengerti ajaran dan tindakan Yesus, melainkan lebih dari itu, mereka tidak mampu mengenal siapa Yesus sesungguhnya. Lalu merekapun mengundurkan diri.

Sebaliknya dengan kedua belas murid Yesus. Iman kepercayaan mereka lebih banyak berperan, sehingga mereka lebih mampu menyelami makna yang jauh lebih dalam dari ajaran dan kehidupan Yesus, lebih dari apa yang sekedar dilihat oleh mata dan didengar oleh telinga serta disimak hanya oleh pikiran semata. Inilah kelebihan dari para pengikut Yesus yang sesungguhnya. Sikap seperti ini dengan sangat baik diperlihatkan oleh seorang tokoh abad ke-XI, dia adalah seorang Uskup sekaligus teolog dari Canterbury, bernama Anselmus. Beliau merumuskan teologi sebagai “fides quaerens intellectum” (iman yang mencari pengertian atau iman berusaha untuk mengerti). Dia tidak berusaha mengerti supaya percaya, melainkan dia percaya supaya mengerti. Salah satu ungkapan pribadinya yang cukup terkenal adalah “Credo ut intelligam” (saya percaya supaya saya mengerti). Salah satu penggalan tulisannya berbunyi:

Saya bukannya mencoba menyelami keagungan-Mu ya Tuhan, sebab saya sama sekali tidak membandingkanakalku dengan keagungan-Mu itu. Tetapi saya ingin sedikit melihat kebenaran-Mu, yang dipercayai dan dicintai oleh hatiku. Dan saya tidak bermaksud untuk memahami agar percaya, tetapi saya percaya agar bisa memahami. Sebab saya percaya juga bahwa saya tak akan mampu memahami kecuali jika saya percaya.

Kita butuh iman agar lebih bisa memahami ajaran-ajaran dan kehidupan Yesus, yang membuat kita bisa setia seperti sikap kedua belas murid itu, yang diwakili oleh Simon Petrus dalam dialog itu. Bahwa ada dari antara kedua belas murid itu yang akhirnya bukan hanya mengundurkan diri melainkan mengkhianati Yesus, hal itu menunjukkan bahwa walau sudah menjadi pengikut Yesus, tetap saja kita memiliki kelemahan, tidak sempurna. Segala kekuatan dan rahmat ilahi yang kita terima melalui Sakramen-sakramen, kita bawa dalam “bejana tanah liat”, yang karena rapuh cenderung berdosa kembali dan jatuh. Kita perlu bangkit melalui pertobatan dan pembaharuan diri terus menerus, sehingga dengan iman yang teguh kita selalu siap menyambut kedatangan Kristus pada akhir zaman.

Leave a Reply

Your email address will not be published.