Gereja Katolik Santo Laurensius - Paroki Alam Sutera

Kurban Kristus Jaminan Hidup Kita

Dalam seni religius, burung pelikan dijadikan simbol pengorbanan diri. Menurut legenda, bila induk pelikan tidak dapat mencari makanan untuk anaknya, ia akan menusukkan paruhnya ke dalam dadanya dan memberikan darahnya sendiri untuk anaknya. Hal ini dilakukan supaya anaknya bisa tetap hidup meskipun induknya sendiri harus mati. Gereja mula-mula memandang kisah itu sebagai sebuah gambaran yang indah tentang apa yang telah diperbuat Kristus bagi kita dan tentang apa yang harus kita perbuat bagi sesama.

Hari ini kita mendengar sabda Yesus “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman.” (6:54-55). Allah Bapa mengurbankan PuteraNya yang tunggal, Yesus Kristus, agar manusia dapat hidup dan mengalami keselamatan. Dengan makan daging dan minum darah Yesus kita menghadirkan unsur-unsur kehidupan Yesus ke dalam diri kita. Sifat dan sikap Yesus sebagai teladan utama kehidupan dihadirkan ke dalam diri kita supaya hidup kita juga seperti Kristus.

Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Efesus menasihatkan agar kita dapat memperhatikan dan merefleksikan kehidupan yang sedang kita jalani. Kita diingatkan agar memanfaatkan waktu yang Tuhan berikan karena ada begitu banyak kejahatan yang mengintai kita setiap hari. Kita diajak untuk belajar mengerti kehendak Tuhan sambil mengucap syukur atas segala rahmatNya supaya kita terhindar dari sikap hidup yang bebal dan tidak mengenal Allah (Efesus 5:15-20).

Supaya kita terhindar dari kejahatan, kita harus menjadikan Yesus sebagai sumber iman dan hidup kita. Kita diajak untuk memanfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk terus menjalin relasi dengan Yesus. Bagaimana caranya? Cintailah Ekaristi! Sebagai orang Katolik kita percaya bahwa roti dan anggur dalam perayaan ekaristi berubah sepenuhnya menjadi Tubuh dan Darah Kristus. Di sanalah terdapat Jiwa dan KeAllahan Yesus. Yesus adalah “roti yang telah turun dari sorga, bukan roti seperti yang dimakan nenek moyangmu dan mereka telah mati. Barangsiapa makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya” (6:58).

Yesus memberikan kehidupan kepada manusia dan melalui ekaristi manusia disegarkan dan dikuduskan. Yesus yang mengurbankan diriNya hadir dalam ekaristi dalam rupa roti dan anggur. Kalau kita setia menyambut Tubuh Kristus, kita akan dijiwai olehNya. Kalau kita sudah dijiwai Kristus maka kita juga dapat hidup bagaikan Roti yang dipecah-pecah lalu dibagi, mampu berkurban dan berbagi dengan sesama. Inilah jalan menuju kekudusan dan hidup kekal.

Leave a Reply

Your email address will not be published.